Tantangan dari Masyarakat:
“Coba dong terapkan ilmu hipnotis Anda. Gimana tuh ngatasi sopir Angkot edan yang ngetem semaunya aja di depan gang-gang? Dihipnotis aja tuh biar pada tertib”.
Demikian pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan ke saya oleh teman yang bergerak di bidang Sosial Masyarakat. Sangat menantang, bukan?
“Bisakah hipnotis membantu menyelesaikan masalah sosial di masyarakat?” lanjutnya.
Sayapun belum terlalu tahu. Karena belum punya pengalaman untuk itu. (catatan: teman saya dan masyarakat awam masih menyebut Hipnosis sebagai Hipnotis, tapi dalam NLP hal ini tidaklah terlalu penting, yang penting saya paham maksud dia)![]()
Apakah metode atau “ilmu” NLP dapat membantu mengatasi situasi nyata yang terjadi di masyarakat ini?
Sayapun belum berani memberikan jawaban pasti. Rencananya, hasil masukan ini akan dibahas dan disiarkan di salah satu radio yang mempunyai jaringan di seluruh Indonesia (saat saya menulis artikel ini, siaran tersebut sudah dilakukan). Dan, juga (semoga) akan seminarkan (baca: didiskusikan) dengan pihak-pihak terkait dan umum. Baiklah, mari kita “selesaikan” tantangan ini dengan…
Mindset “Rasa Ingin Tahu & Mungkin Aja”
Bagaimana kebiasaan praktisi NLP menyelesaikan atau menjawab tantangan?
Pertama, kami harus memiliki rasa keingintahuan yang besar.
Kedua, yakini bahwa pasti ada jalan keluar dari sebuah masalah atau tantangan. Saya selalu tanamkan dalam mindset saya bahwa “Anything is POSSIBLE”.
Jadi, coba dulu saja menjawab tantangan tersebut. Lupakan bahwa seperti apa jawaban, cari saja beberapa alternatif, pilih yang terbaik. Ide atau jalan keluar akan muncul, saat otak menerima tantangan. Ada stimulus, ada respon, bukan?
Inilah dinamika kehidupan. Bayangkan jika kita hidup tanpa tantangan? Mungkin, kita hanya jalan di tempat saja, bukan? Repotnya, jalan-jalan itu menyenangkan dan sangat menghabiskan waktu. Eh, tahu-tahu sudah tua he..he.. Apa langkah awal kita?
Observasi Dulu Aja.
Seperti melakukan penelitian kecil-kecilan, mempelajari situasi, membaca peta cara pikir, membuat profile atau apapun namanya. Intinya adalah jangan terlalu cepat memberi masukan, solusi atau jalan keluar sebelum paham betul dengan situasi dan kondisi nyata yang terjadi, apapun konteksnya.
Berikut ini kira-kira “laporan” hasil observasi mindset ala saya:
Sopir Angkot dituding para pemilik mobil yang berada di belakangnya, sebagai biang kerok kemacetan panjang yang terjadi di jalan-jalan perumahan.
-
1. Akibat kemacetan parah, perjalanan ke kantor makin lama, lalu para pemilik mobil stres, marah, emosional bahkan “depresi” dengan situasi ini. Beberapa tempat, bahkan masyarakat sampai melakukan aksi protes (saya lupa sumber koran yang melaporkan kejadian ini) kepada sopir-sopir Angkot tersebut.
-
2.Ibu-ibu, khususnya yang sudah berumur, saat masih berada di dalam gang dan pas melihat jurusan Angkot yang dinanti, umumnya senang dengan ditunggunya oleh Angkot yang ngetem di depan gang, karena sebagai pelanggan merasa dihargai dan menghemat waktu. Karena tidak perlu menunggu yang lama.
-
3.Menurut Sopir Angkot: “BBM naik terus. Setoran juga ikut naik. Gua harus nyari akal untuk ngejar setoran, tauk! Yang naik mobil tuh ‘kan orang kaya, mestinya bisa ngerti kita-kita, dong!”
Nah, lho. Semuanya benar, bukan? Ya, memang begitu. Di dunia ini tidak ada yang salah, juga tidak ada yang benar. Kita hanya beda pendapat saja, bukan? He..he.. saya tahu pikiran Anda saat ini, bunyinya kira-kira: “Bisa aja elo ngomong, dasar Urang eN eL Pi”
Bagaimana “menyelesaikan” masalah Sopir Angkot Edan ini?
Mudah dan sederhana saja? Kita bisa gunakan teknik gonta-ganti atau pindah-pindah posisi. Yok, mari kita main-main seperti saat kita masih kecil, masih ingat main …..
Posisi 1: Pemilik Mobil di belakang Angkot
Posisi 2: Hidup Sebagai Sopir Angkot
Posisi 3: Jadi Penasehat yang Bijaksana
Dalam posisi 3 ini, Anda menjadi penasehat untuk Pemilik Mobil dan Sopir Angkot, apa yang sebaiknya mereka lakukan. Beberapa ide solusi atau masukan akan muncul dengan sendirinya. Tanyakan Unconscious Anda yang bijaksana untuk membantu mencarikan solusi. Dan, muncullah ide ini:
Ekonomi
Situasi ekonomi di Indonesia saat ini ,sungguh bukanlah sebuah situasi yag mudah untuk disiasati oleh kaum bawah seperti sopir angkot ini. Naiknya harga BBM berikut kebutuhkan pokok lainnya, cukup memberatkan. Yang sopir angkot hanya ketahui saat ini adalah untuk meningkatkan penghasilan, caranya hanyalah dengan menambah penumpang sebanyak mungkin.
Cukup banyak sopir angkot mem-PHK keneknya karena tidak sanggup bayar komisi si kenek lagi. Akhirnya, terpaksa pekerjaan si kenek ditangani sendiri oleh sopir angkot. Karena posisi duduk sebagai supir berada di depan, maka terpaksalah sopir angkot meletakkan posisi mobilnya di depan gang untuk melihat kedalam gang, apakah ada calon penumpang.
Siapa yang sebaiknya “mengalah”?
Ya, se-ikhlasnya adalah mereka yang lebih kuat secara ekonomi, yakni para pemilik mobil. Baik sekali mengenakan baju mindset yang diucapkan oleh Cat Steven pelantun “Morning has broken” yang merubah nama menjadi Jusuf Islam yakni “Kadang kita selamat, kadang kita tenggelam. Jika kita selamat, kita mempunyai tugas besar untuk menolong orang lain”. Indah sekali, bukan? Mari kita lakukan bersama yoook…
Berikut ini ide bagaimana teknik mudah dan sederhana, yang bisa dilakukan oleh siapa saja untuk membantu “masalah” sopir angkot yang sering ngetem di depan gang ini. Kuncinya sederhana saja, yakni niat tulus untuk membantu bangsa ini walau hanya hal kecil dan sepele. Mari kita lakukan bersama-sama halkecil ini…
Teknik Mudah Menghipnotis Sopir Angkot
1. Saya siapkan sarung, kupiah atausongkot di mobil saya.
2. Saya jalan pelan-pelan yang bisa membuat kesal sopir angkot.
3. Angkotpun menyalin saya dengan kesalnya.
4. Saya salip lagi, saya hentikan mobil di depan pintu sopir angkot.
5. Dengan nada keras (tanpa emosi), saya berteriak: “Sibuk, ya sibuk!!!”
6. Dengar bentakan saya, sopir angkot menoleh bersiap marah, saat wajahnya menghadap saya, saya sodorkan sarung atau kupiah sambil tersenyum dan bersuara sangat lembut: “Tapi… jangan lupa sholat…”
7. Sopir angkot “trance” bengong, sebelum dia sempat berucap terima kasih, secepat mungkin saya tancap gas dan kabur.
8. Supir Angkotpun tertinggal dalam keadaan bengong “tanceee…”
Catatan:
Langkah-langkah kunci untuk melakukan “hipnotis” ini di nomor 5. 6 & 7. Lakukan dengan sangat cepat dan terus saja lakukan, sampai Anda terbiasa melakukan “hipnotis” ini dan ilmu “hipnotis” pun menjadi berguna dari sekedar mengambil duit orang di ATM he..he..
Tambahan ide lain:
- Sarung, kupiah atau songkok dapat diganti barang lainnya, seperti: Angpau berisi uang, Bahan Kebutuhan Pokok seperti minyak goreng, Beras & Terigu, paket manis seperti: “Kopi, Teh & Gula Pasir”
- Hal lain yang saya amati adalah perlunya dikembangkan kebanggaan sebagai ayah, alangkah indah dan bahagianya saat aopir angkot tersebut pulang ke rumah bawa sesuatu bahan pokok, layaknya seorang ayah. Jadi, bisa kita berikan juga: Mainan Anak dan tidak perlu yang baru, Sajadah untuk Ibu di rumah.
Jika kita tidak punya uang?
Kebaikan tetap bisa dilakukan, kita hanya perlu jeli bagaimana mengatur uang. Aturlah uang dengan bijak. Menghemat di pengeluaran yang tidak perlu dan tidak penting,agar uang tersebut bisa digunakan ke hal-hal yang lebih penting, seperti berbagi ke sesama, sungguh merupakan pilihan yang menyejukkan. Dan, saat hati sejuk, kita bisa menyelesaikan banyak hal persoalan kehidupan ini. Lalu, sekarang…
Terapkan Ide yang Muncul
Cukup lakukan hal-hal sebatas kemampuan Anda, walau hanya berbagi pakaian bekas yang masih layak. Saya sangat yakin dan percaya, jika masyarakat Indonesia terus berbagi ke warga saudara yang perlu dibantu, Indonesia pasti bisa bangkit dan maju kembali. Tidak perlu menunggu gebrakan pemerintah. Berbuatlah sesuatu untuk negeri ini. Setelah melakukan hal-hal kecil berbagi ini…
Observasi Hasilnya
Baik sekali untuk mengevaluasi hasil setiap perbuatan kecil ini, agar dapat diperbaiki menjadi cara yang lebih baik lagi. Karena bisa berguna juga untuk hal lain, mungkin untuk dibagikan ke sahabat. Dan, yang terpenting adalah observasi perasaan dalam diri Anda setelah melakukan kegiatan berbagi ini. Apakah muncul perasaan yang menghambat untuk menyetop kegiatan berbagi ini? Atasi, lampaui, bereskan dan teruslah bergerak agar …
Jadi Kebiasaan Diri
Yang tidak perlu lagi kita ingat caranya karena sudah menjadi darah dan daging di dalam diri kita, bukan lagi duri. Kebiasaan berbagi ini, apapun sebutannya, apapun namanya, jika gerakan ini makin besar dan makin besar, inilah yang secara makro disebut ekonomi Syariah. Syariah bukanlah milik umat Muslim, tapi Syariah untuk siapapun manusia yang peduli dengan khidupan ini…
Membesarnya gerakan berbagi ini, khususnya untuk kalangan masyarakat bawah, pasti akan berdampak dahsyat terhadap pergerakan ekonomi secara nasional nantinya.
Mengapa saya selalu mengajarkan masyarakat bawah untuk terus berbagi kepada warga yang lebih membutuhkan, bahkan anak-anak jalananpun di dalam pelatihan yang saya pimpin, mereka saya minta melakukan kegiatan Bakti Sosial ke penduduk. Ada yang bertanya: “Mengapa kami orang miskin diminta berbagi?. Saya hanya tersenyum berkata: “Suatu saat kamu akan mengerti…”
Titip Pesan
Tularkan virus berbagi ini kepada masyarakat umum. Berikan kesempatan kepada mereka untuk berbagi, berbagi dan berbagi… Karena dengan berbagi, mereka akan segera keluar dari keterpurukan dan bergerak menjadi orang kaya.
Sesederhana itulah hukum energi kemakmuran berkerja.
Jogjakarta, 11 Oktober 2008
Krishnamurti sedang ngebut selesaikan buku di Kanisius
Viewed 3478 times by 1099 viewers