Hah, bakat membuat syair?
“Bagaimana sih cara Anda membuat syair? Kok, kayaknya mudah aja, padahal Anda kan Motivator. Anda pasti punya jiwa seni ya?”, demikian beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh beberapa pendengar Radio Sonora, beberapa pembaca buku Share The Key, juga beberapa anggota milis Bidadari Words.
Cukup susah juga menjawab pertanyaan teman-teman tersebut. Bakatkah? Berjiwa senikah? Hobikah? Saya juga tidak tahu he he… Namun, saya bisa berbagi pengalaman bagaimana proses saya membuat kalimat-kalimat indah (paling tidak menurut saya sih ha ha ha) seperti syair, puisi ataupun pantun. Nah, salah satu strateginya adalah…
Selesaikan secepat mungkin
Saat sebuah ide muncul dalam benak saya, maka akan saya lakukan sampai selesai. Itu saja tuh resepnya. Jangan ditunda, langsung ketik saja, langsung tulis saja, sampai terasa cukup atau dirasa selesai. Jangan dibaca-baca lagi, nanti malah sibuk merubah, bahkan malah bisa jadi kacau.
Berikut ada sebuah pengalaman bagaimana saya membuat syair, sajak, puisi atau apalah namanya karena saya juga tidak pernah memberikan tulisan ini sebuah nama, walau ada sebuah judul. Strategi lainnya…
Gak usah banyak mikir, jalan-jalan saja
Suatu hari, saya terbangun cukup pagi dari tidur, di sebuah tempat yang sangat sejuk yakni Nongko Jajar, Gunung Bromo, Jawa Timur. Lalu, saya mengikuti hati saya untuk berjalan-jalan menelusuri tempat sekitar dengan membawa kamera digital dan Black Berry Bold agar mudah saya mengetik, jika muncul sebuah ide.
Saya terus berjalan menikmati alam sekitar dan terus saja berjalan dan berjalan, sampai tiba-tiba saya tertegun melihat bunga kembang sepatu merah darah merekah indah, yang besarnya sekitar 1.5 kali dari yang biasa saya lihat selama ini.
Saya hanya mengamati dan menikmati, sungguh sangat indah. Saya mengambil beberapa gambar kembang tersebut dari berbagai posisi. Dan, tiba-tiba…
AHA! Muncul ide
Saya terkagum-kagum akan sebuah bunga kembang sepatu yang benang sarinya menghadap langsung ke sinar matahari pagi yang hangat. Ah, indah sekali. Sungguh sangat indah. Nah, saat perasaan kagum ini muncul, saya buka Black Berry, lalu saya biarkan hati ini menggerakkan jari-jari tangan untuk mengetik-ngetik semaunya saja, berikut ini hasilnya…
- 1. Berguru pada Benang Sari
Benang sari menyambut terang
Kuning merekah disapa pagi
Seperti sangat gembira, sangat riang
Walau hanya bergoyang pelanIndah yg indah, tak perlu bunyi
Terus bergoyang tanpa suara
Bahagia yang hanya bahagia
Tak perlu pujian seperti manusiaBahagia ya bahagia saja
Gembira ya gembira saja
Senang ya senang saja
Tidak perlu dimaknaiSungguh hidup ini sederhana
Belajar dengan benang sari bunga
Yang bersyukur adanya cahaya
Indah terang dari IlahiTerkagum Nongko Jajar, Gunung Bromo, 19 Agustus 2009
Krishnamurti – Mindset Motivator
Selesai syair yang pertama ini, saya terus membiarkan hati saya menggerakkan kaki untuk melangkah kemana kaki ini ingin melangkah dan bertemulah kami dengan sekumpulan bunga mawar berwarna kuning yang unik. Mengapa unik? Karena mekarnya bisa kompak rame-rame kayak sedang demo he he… Strategi lainnya adalah…
Menikmati… Hanya menikmati…
Saat ketemu sebuah keindahan, jangan biarkan pikiran Anda bekerja. Biarkan perasaan Anda, biarkan hati Anda yang bekerja, biarkan diri Anda menikmati dan menikmati apa yang ada di depan Anda saat itu.
Dari hasil menikmati itu, muncullah kekaguman lainnya yang saya tuangkan sebagai cerita hikmah berikut ini:
- 2. Mawat Empat
Satu tangkai bermuncul empat
Satu warna berkumpul-kumpul
Layaknya satu keluarga
Ada dewasa, ada si bungsuBersama pula tertawa pagi
Menebarkan kuning guna mewarnai
Kuning yang sudah diberi Dia yang Maha
Tidak memilih, hanya menerimaMemberi indah, itulah misinya
Melengkapi warna, itulah tujuannya
Dinamai kuning, bukanlah keinginannya
Tidak kuning, tidak mawar, hanya maknaHanya bunga indah milik si Pemcipta
Memberi senyum lembut dari Dia
Agar dunia belajar padanya
Bahwa bahagia ada di dalam bungaAda dimana-mana
Sangat dekat
Tidak perlu dicari
Cukup dinikmati
Cukup disyukuri
Cukup disentuh…Trance bengong di Nongko Jajar, Bromo, 19 Agustus 2009
Krishnamurti – Mindset Motivator
Selesailah syair yang kedua dalam waktu yang cukup singkat. Mengapa singkat? Karena nggak mikir hi hi hi… Jadi, hasilnya bisa seperti di atas itu. Coba kalo saat itu saya mikir, mungkin hasilnya jadi skripsi he he… Ada strategi lain yang juga cukup sering saya lakukan, yakni saat hati sedang memetik hikmah, sehingga ada perasaan yang…
Reflektif
Setelah menikmati karya alam semesta dimanapun ditemui, saya sempatkan diri barang sejenak untuk reflektif, menghadap sejenak ke DIA yang Akbar, yang Maha, yang Besar, yang Agung.
Waktu itu, setelah menulis dua buah syair. Saya duduk di rumput kadang saya bersila, kadang saya bersimpuh, sambil menatap sinar matahari pagi yang hangat, di udara pagi Gunung Bromo yang sangat dingin. Saya bertanya kedalam diri, kira-kira apa yang kehendak DIA menghantar saya ke tempat ini? Apa ya? Mungkin ini…
- 3. Sempatkan aku untuk berbagi
Engkau sungguh Maha Besar
Hanya cahaya hangat yang Kau beri
Di pagi hening sejuk berbunyi jangkrik
Agar aku berdiam sejenak mendengarMuPesan alam pesan yang indah
Perlu hati untuk memahaminya
Mudah sekali, namun sulit
Karena bicara tapi sunyi
Karena warna-warni tapi kuning
Karena sejuk tapi hangat
Karena terang tapi gelapBerdiam diri itulah pesannya
Agar aku tetap rendahkan hati
Untuk memahami pesanNya
Agar hijau makin hijauAku hanya bisa bersyukur
Hanya bersyukur
Aku bisa bicara pada Mu
Berdua bermesaraan bercahaya
Tertawa dan tersenyum
Sungguh Engkau Maha AkbarIjinkan aku, anakmu ini
Melayani lebih luas lagi
Berbagi lebih banyak lagi
Melangkah lebih jauh lagiSempatkan aku untuk terus berbagi
Terima kasih Bundaku…
Doaku Kau sampaikan…Bersimpuh menatap cahaya pagi di Nongko Jajar, Bromo, 19 Agustus 2009
Krishnamurti – Mindset Motivator
Ya, begitulah proses pembuatan syair yang ketiga ini, cukup unik namun mudah, kan? Selanjutnya, saya selesai jemur pagi. Saya mandi dan sepertinya di dalam hati masih ada sesuatu yang belum terselesaikan. Apa ya? Kok, tubuh ini masih kedinginan. Karena memang suhu di Nongko Jajar sangat dingin. Aha, suhu yang sangat dingin ini memberikan ide, makna kedinginan dalam arti yang berbeda. Dan, jreeeng inilah syair berikutnya, syair ke empat dan syair terakhir…
- 4. Kunci sukses
Tuhanlah pemilik kunci sukses kita
Namun, tidak disimpan di Surga
Kunci itu diletakkan dalam hati kita
Di tempat yg terdekat dgn diri iniSungguh sangat dekat
Hanya satu tarikan nafas
Hanya satu pejaman mata
Hanya satu kalimat doaSelama di Bumi, mengapa mencarinya ke Surga?
Selesaikan pekerjaan bumi di bumiBerhentilah melangkah sejenak
Berdiam diri mengetuk pintu hati
Masuklah ke dalam sanubari
Carilah kata misi hati
Disitulah terpahat kata
Untuk apa aku ada di bumiBermainlah sejenak dg diri Anda
Menumlah anggur bersama Jiwa Anda
Tertawalah dengan sang batin
Berkenalanlah lebih dekatBerpelukanlah…
Berdekapanlah…
Menyatulah…Agar aku menjadi aku
Kedinginan di Nongko Jajar, Bromo, 19 Agustus 2009
Krishnamurti – Mindset Motivator
Demikian, sobat pembaca tentang kisah sepotong bagaimana saya membuat syair. Ada yang bilang Motivator juga manusia, makanya bisa romantis he he… Banyak kejadian lain yang prosesnya bisa berbeda, namun strateginya agak mirip-mirip. Semoga saja ide strategi ini dapat menjadi inspirasi Anda dalam membuat syair.
Karena menurut saya, bersyair dapat melatih hati untuk berkata-kata.
Sehingga hati bisa bicara.
Hati bisa ngomong.
Hati bisa dipahami.
Hati bisa dijelaskan.
Dan, saat hati berkata-kata, semua menjadi indah.
Kehidupanpun menjadi hidup.
Nongko Jajar, Gunung Bromo, 19 Agustus 2009
Krishnamurti yang berjanji kembali ke Gunung Bromo untuk motret terbitnya matahari dan menyeruput kopi kampung pahit panas…
Yang mau ikutan, monggo email ke: krishnamurti@indo.net.id kita berangkat dari Jakarta langsung ke Malang, naik mobil dari Bandara langsung ke Nongko Jajar, bermalam disana, jam 4 pagi naik ke Gunung Bromo. Jangan lupa bawa kamera yooo…
Viewed 3584 times by 1165 viewers
Luar Biasaaa….Sukses yahh Pak selain motivator ternyata punya bakat lain yang terpendam.. salut selain mengajarkan bagaimana kita menggali pentensi kita ternyata juga menggali potensi diri sendiri… :)
ach…..kalau ke bromo aku ngak mau….
aku mau ikut kalau di ajak nonton, jjejejejjejjjjejjejjejje aku lebih suka nonton atau liat laut…jejejjejjeje
for all info i stop all my poems for you
syair yang indah, menyentuh dan hangat, seakan2 saya bisa merasakan dan berada disana melihat bunga warna kuning itu, dinginya pagi, basahnya embun dan hangatnya mentari pagi..hhmm.. thanks..