Tip Praktis NLP#75: Sowan “Sekuntum kagum untuk Mbah Maridjan”

Sekuntum kagum

Bunga walau hanya satu kuntum.

Dapat menyerbakan wangi ke penjuru.

Wangi lembut tebar menyebar.

Demikian saat jumpa Mbah Maridjan.

Dirumah sejuk lereng Merapi.

Walau gunung dahsyat gelegar.

Namun dapat berdamai dengan doa.

Doa seorang Mbah yang sederhana.

Doa sederhana untuk kesederhanaan.

Sebuah kekuatan yang tersimpan rapi.

Di dalan hati kesederhaan yg terdalam.

Kuat dan makin kuat, saat berdiam

Sungguh mengagumkan…

Sungguh mengagumkan…

Aku bangga menyalamimu Mbah.

Walau hanya sebuah salam.

Walau hanya sewaktu cerita.

Walau sepotong canda tawa.

Walau hanya omongan biasa.

Namun, buatku adalah berkah.

Tabik sujud dari cucumu,

Krishnamurti yang kagum padamu.

Semua ada hikmahnya

Ternyata ketinggalan kereta api hanya 3 menit di stasiun Purwokerto pada hari Minggu siang, 30 Agustus 2009 lalu, membawa cerita dan berkah sendiri buat saya.

Walau sempat membuat stres panitia yang mengantar saya, karena dia merasa ikut bersalah, akibat mampir dulu belanja oleh-oleh tempe mendoan untuk saya bawa ke Jakarta he he…

Cerita kehidupan bisa berubah, saat sebuah keputusan diambil.

Mengapa demikian? Saya rubah semua agenda kegiatan, akibat ketinggalan kereta api tersebut. Saya putuskan pergi ke Jogja untuk melihat alternatif lain berangkat ke Jakarta, karena malamnya saya harus siaran langsung di studio Radio Sonora jam 22:00 sampai jam 24:00.

Namun, kehidupan bisa berganti cerita. Tiket pesawat kelas ekonomi penuh, kalau saya naik kelas bisnis, jauh lebih murah saya menginap & jalan-jalan di Jogja dulu, demikian niat saya he he.

Akhirnya, setelah diskusi dengan teman di Radio Sonora Jakarta tentang kemungkinan siaran di Jogja yang disambung ke Jakarta, ternyata memungkinkan, saya putuskan bermalam di Jogja.

Pengalaman batinpun bertambah

Saya sempatkan cari teman-teman tukang becak di jalan Sosrowijayan dan mengajak mereka untuk buka puasa bersama sambil mendengarkan kisah kehidupan mereka. Lalu, dilanjut beli kaos khas plesetan Jogja untuk oleh-oleh ke sebuah tempat yang dianjurkan oleh Mas Hari tukang becak teman saya.

Memilih Kaos Mbah Maridjan

Saya hanya tertarik membeli kaos-nya Mbah Maridjan dan hal ini diperhatikan oleh Mas Hari dengan bertanya mengapa saya hanya tertarik memilih kaos itu.

Saya bercerita bahwa saya sangat kagum dengan Mbah Maridjan. Sungguh sangat kagum, walau saya belum pernah bertemu dengan si Mbah. Banyak hal yang membuat saya kagum dan diskusi berakhir dengan tawaran Mas Hari untuk mengantarkan saya ke tempat Mbah Maridjan di lereng gunung Merapi. Akhirnya saya…

Puasa untuk mengambil keputusan

Karena tawaran ini sangat berarti buat saya, maka saya bilang bahwa saya akan puasa dulu mulai makan malam hari ini sampai esok hari. Jika hati saya setuju, maka besok siang saya ikuti hati saya untuk ke tempat Mbah Maridjan.

Singkat cerita, puasa terus berlanjut sampai esok harinya dan hati saya tergerak untuk berangkat dengan naik ojek dari Malioboro ke lereng gunung Merapi. Setelah sekian waktu, pantat sayapun terasa makin panas di boncengan ojek, karena jaraknya lumayan jauh jika naik ojek he he…

Bertemu berdua Mbah Maridjan

Akhirnya, kesempatan lama yang sudah saya tunggu-tunggupun terjadi, saya bisa berjumpa dengan Mbah yang sangat saya kagumi kehebatannya ini yakni Mbah Maridjan.

Kamipun ngobrol dan berbagi cerita, tertawa, guyon dengan Mas Hari sang tukang becak sebagai penerjemah karena saya tidak bisa bahasa Jawa halus he he…

Banyak hal yang saya petik dari pertemuan ini. Sungguh sangat banyak.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin berbagi tentang hikmah yang saya dapat. Namun, lebih ke strategi saya saat belajar dengan seseorang yang dikagumi, sehingga bisa belajar sangat banyak, dalam waktu yang pendek.

Sebenarnya, strategi belajar tersebut sangatlah mudah. Saya menggunakan strategi anak-anak TK saat belajar di kelas yakni…

Serap & Resap

Ya, anak-anak TK sangat pandai menyerap apapun yang diberikan oleh gurunya. Mereka seperti busa yang dapat menghisap air dengan sangat cepat dan gak banyak mikir. Sruuuut… Semua ilmupun terserap dengan baik.

Nah, ilmu inilah yang saya gunakan. Sikap agar strategi ini bisa berjalan dengan baik adalah saya membangun rasa kagum dan hormat dahulu pada orang yang akan saya temui, lakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Tidak boleh pura-pura.

Kurang lebih “serap” yang saya lakukan saat ketemu Mbah Maridjan adalah demikian:

1. Saya hanya duduk diam melongo, nggak mikir, layaknya seorang cucu yang tidak paham apapun tentang kehidupan ini.

2. Apapun yang Mbah Maridjan sampaikan, sungguh membuat saya makin hormat dan kagum, walau saya tidak memahami sedikitpun apa yang Mbah sampaikan, karena dalam bahasa Jawa halus.

Yang saya rasakan hanya kekaguman dan rasa hormat yang tinggi untuk Mbah.

3. Dalam hati saya hanya bisa berdoa dan bersyukur, hanya bersyukur dan hanya bersyukur…

Demikian strategi singkat saya tentang proses “Serap”, selanjutnya adalah meresapkan ke dalam batin apa yang telah diserap tadi. Strategi “Resap” saya sungguhlah sederhana, bahkan sangatlah mudah, yakni:

Diam selama mungkin…

Saya tahu Anda akan tertawa dan mungkin juga bingung. Kok, diam sih? Ya, emang diam saja. Saya biarkan diri ini mengagumi sosok yang baru saya ketemui tadi yakni Mbah Maridjan. Satu persatu saya resapi apa yang disampaikan Mbah Maridjan, baik:

-       yang terlihat secara visual

-       kalimat yang disampaikan

-       perasaan yang dirasakan

Satu hal yang terpenting adalah intuisi batin yang terdalam dari makna-makna yang tersembunyi, yang (menurut saya) hanya bisa dirasakan diluar ambang batas indra kita, sekarang baru saya menyadari mengapa diri saya memilih puasa sejak semalam, sebelum bertemu Mbah Maridjan. Ada makna indah yang tersimpan di dalam visual yang terlihat, suara yang terdengar, rasa yang muncul. Sungguh luar biasa…

Setelah Serap dan Resap, baik sekali menyelaraskan nilai-nilai yang di dapat, dengan nilai-nilai yang kita anut. Sehingga pertemuan itu tidaklah sia-sia. Bahkan bisa merubah cara piker, yang saya lakukan secepatnya adalah…

Saya mengambil keputusan untuk merubah diri

Bisa membuang keyakinan yang sudah kurang tepat.

Bisa memperluas dan mengembangkan cara pikir.

Bisa juga membangun keyakinan baru atau hal lainnya.

Sobat pembaca, demikian sharing pengalaman yang saya dapatkan saat berada di lereng Gunung Merapi, bersama Mbah Maridjan. Semoga berhikmah dan berguna…

Jika ada kesempatan, baik sekali Anda sempatkan diri untuk mengunjungi Mbah Maridjan, mumpung Mbah masih hidup. Karena sangat banyak ilmu pengetahuan khususnya untuk perkembangan batin, yang bisa kita dapatkan dari si Mbah.

Datanglah. Sowanlah. Petiklah buah hikmah untuk perkembangan batin Anda sendiri, bukan karena kata orang lain.

Satu hal yang ingin saya sampaikan pada Mbah Maridjan, sebagaimana pesan yang ada di balik kaos yang saya beli. Ijinkan…

Kulo nderek simbah mawon…

Jakarta, 2 September 2009

Krishnamurti – dalam pesawat terbang dari Surabaya menuju Jakarta

Viewed 3879 times by 1256 viewers

This entry was posted in Modeling and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>