Tip Praktis NLP#87: Renungan Merdeka “Berhentilah Panggil Aku Cina…”

“NLP tuh ilmu Monyet”, kata Emak John Grinder.

Sebagai hanyalah seorang penerap ilmu NLP yang telah saya tekuni selama 6-7 tahun ini, saya TIDAK PERNAH tertarik untuk mengajarkan NLP. Sejak belajar NLP, saya sangat tertarik dengan ilmu memodel yang menjadi dasar ilmu NLP. Di benak saya saat itu, bila saya hanya mengajarkan produk NLP ke orang banyak, kapan majunya bangsa ini? Kan, tidak mungkin saya membuat kelas NLP Praktisioner di depan 1.000 orang? Tetapi, saya bisa membangkitkan kesadaran kehidupan 1.000 orang dengan teknik NLP. Nah, 2 cara pandang yang berbeda sekali, bukan?

Namun, saya sangat menghormati mereka yang mengajarkan ilmu NLP kepada orang banyak. Saya hanya tertarik yang berbeda saja. Saya sangat tertarik akan kata percepatan. Saya sangat tertarik ilmu dan teknik untuk percepatan sukses tersebut yakni MODELLING. Dan, mulailah saya memodel orang-orang sukses di Indonesia ini. Semua hasil karya modelling ini, akan saya tuangkan menjadi buku di Share the Key ke 3 yang berjudul: Andapun MOTIVATOR!!!

Memodel Bung Karno

Sudah sekitar 4 tahun ini saya punya intensi tinggi sekali dengan Sang Proklamator Bangsa Indonesia yakni Bung Karno. Saya kunjungi makam beliau. Saya jabangi tempat-tempat yang sering dijadikan tempat refleksi beliau. Sebuah tempat yang dijadikan perenungan diri. Saya terus mencoba merasakan apa yang beliau rasakan.

Satu hal yang menarik ternyata, saya sudah membaca buku Bung Karno sejak saya SMP di Xaverius II Palembang, dimana saya satu kelas dengan M Tito Karnavian yang sekarang menjabat sebagai Kadensus 88 dan saya selalu ingat akan kalimat ini: “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”

Banyak hal perubahan sikap, cara pikir dan hal lainnya dalam diri saya, setelah saya memodel Bung Karno. Misalnya: Suara yang menggelegar, tatapan mata yang sangat tajam, tarikan nafas meditatif, maupun marah yang luar biasa ha ha ha… jika beliau tersinggung saat bangsa Indonesia disepelekan.

Nah, saya bersyukur saya bisa merasakan “state” emosi saat Indonesia disepelekan oleh Malaysia karena kasus nelayan yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Kebetulan saya sedang memodel Bung Karno untuk salah satu state lainnya, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan kita pada:

Tanggal 17 Agustus 2010

Salah satu renungan tekad dalam diri saya yang muncul adalah:

Walau bangsaku banyak koruptor…
Walau tanah airku banyak dijual…
Walau mental negeriku belum lagi merdeka…

Namun, darahku tetap untukmu…
Dan, aku akan terus berkarya yg terbaik…
Sampai tulangku menyatu dengan tanah tumpah darahku..m
Indonesia pusaka…

Jakarta, 17 Agustus 2010
Krishnamurti, Mindset Motivator

Ada satu lagi syair yang muncul, saya letakkan di bawah artikel ini sebuah renungan di malam penutup hari kemerdekaan, sebuah pengharapan dari batin saya saja. Dan, keesokan harinya yakni:

Tanggal 18 Agustus 2010

Saya terbangun pagi-pagi dan membaca berita di koran. Dan, setelah membaca denga lengkap dari berbagai sumber tentang kejadian kasus nelayan Malaysia yang mencuri ikan di perairan Indonesia, saya bertanya dalam hati:

“Apa yang Bung Karno lakukan, jika saat ini beliau jadi Presiden?”

Saya diam sejenak dan masuk ke “state” Bung Karno, astaga tiba-tiba diri saya meledak dahsyat. Ada marah besar dalam diri saya. Bukan kepada Presiden sekarang, tapi pada kejadian pelecehannya. Lalu, saya mengutip kalimat Bung Karno yang saya posting di status FB saya dan juga di Milis Bidadari Words yang saya kelola, termasuk di “contact list” BBM  menjadi:

“Kita tunjukkan
kita masih memiliki martabat.
Yoo… Ayo… Kita Ganyang… Malaysia…”(Presiden Soekarno, 27 Juli 1963)

Pemimpin Tegas,
Bangsa jadi Percaya Diri…

Dalam hidup ini,
kita harus bisa tegas.
Terutama dalam hal prinsip
dan sikap pada kebenaran…

Krishnamurti, Mindset Motivator

Wah, beragam respon masuk ke saya secara mendadak. Ada yang bangga, ada yang terharu, ada yang setuju, ada yang suka dan ternyata ada yang takut, ada yang marah, bahkan ada yang memaki. Demikian makiannya:

“Bego loe ya .. ganyang-ganyang emangnya loe mampu, kalo mampu ganyang aja sendiri jangan ngajak2 orang lain .. gue kasi tau aje loe motivator tuh hidup dijaman sekarang bukan ngutip2 orang dari jaman baheula yang ga ada tempatnnye lagi di jaman sekarang .. “, dari email: rek…@…

Saya terngakak-ngakak baca email ini. Inikah gambaran anak muda kita saat ini? Kasihan betul. Bukan lagi mental tempe, tapi mental tahu ha ha ha…

Dengan “state Bung Karno” lagi, saya balas dengan TEGAS ke status FB saya kalimat berikut:

Maaf, bagi Anda yg keberatan dgn status2 sy di FB ini, silakan REMOVE from FRIEND aja… Jika mau berteman dg sy, terimalah sy apa adanya… Kadang lembut, kadang keras, kadang TEGAS. Sy hanyalah manusia biasa bukan Dewa… Make it simple…

Dan di milis Bidadari Words, saya posting:

Bagi Anda yg keberatan dg kiriman sy di milis Bidadari Words ini & mau keluar, silakan kirim email kosong ke: BidadariWords-unsubscribe@YahooGroups.Com Make It Simple… Krishnamurti, Mindset Motivator

Ha ha ha… sungguh seru menjadi seorang Bung Karno, sangatlah tegas dan berwibawa. Sungguh, tidak ada rasa takut.

Malam harinya, saya mendapat ilham kailmat berikut ini:

“Bukan bangsa lain lebih besar dari bangsa kita. Tetapi, karena bangsa kita lemah yang membuat bangsa lain jadi besar… Besar kepala…”

Agak tengah malam, seroang teman ngobrol dengan saya tentang kehilangan teman dan hasil diskusi singkat tersebut, saya posting ke status FB saya berikut ini:

Seorang teman: “Gak takut kehilangan kawan2 Mas, dengan status Mas di FB tadi?”

Saya jawab: “Dalam hidup ini, kita tidak akan kehilangan apapun, jika kita tidak punya apa-apa he he…”

Maksud saya adalah janganlah hidup melekat dengan duniawi. Setelah itu, saya bersyukur sekali bisa mendapatkan “state Bung Karno” ini dan merasakannya sehingga sekarang sudah tersimpan di alam bawah sadar saya. Sehingga, sekarang bila saya ingin menggunakannya kembali, saya cukup “upload” lagi saja… Terima kasih ya Allah, Engkau sungguh Maha Besar… Thanks juga untuk para Guru pencipta NLP. Hari saat saya menulis artikel ini, yakni:

Tanggal 20 Agustus 2010

Saya di “tekan” dengan lembut oleh orang-orang yang menurut saya “penakut” ha ha… Bisikannya saya posting ke Milis Bidadari Words, saya tulis di status FB dan juga saya Broadcast Message di BBM sebagai berikut:

Ada teman sesama Tionghoa menasehati:

“Sebagai orang Tionghoa di Indonesia, janganlah buat pernyataan terlalu keras di umum seperti Ganyang Malaysia. Walau hanya kutipan dr Bung Karno”

Saya jawab:

“ENGKONG SAYA MENGAJARKAN:

JANGAN TINGGAL DI NEGERI INI,

JIKA KITA TIDAK MAU BERKORBAN UNTUK NEGERI INI!”

Diapun stres ha ha… Rasain…

Respon di BBM sayapun belimpahruah… Sekali lagi, selain saya berterima kasih dengan adanya ilmu NLP yang memungkinkan saya memodel orang-orang yang saya kagumi, sehingga terjadi perubahan dalam diri ini menjadi seseorang yang saya inginkan. Juga, saya ingin minta maaf, kepada pihak manapun yang mungkin bisa tersinggung karena pernyataan-pernyataan saya di Face Book dan Milis Bidadari Words yang saya kelola. Saya hanyalah ingin jadi diri saya sendiri saja. Saya ingin menjadi orang yang berguna untuk bangsa ini.

Satu hal yang ingin saya sampaikan ke para pembaca, bahwa saya terus berubah… Saya selalu berubah… Tentunya menjadi Krishnamurti yang lebih baik. Seorang Krishnamurti yang TEGAS…

Sebagai akhir dari artikel ini, saya ingin berbagi perasaan saya sebagai salah satu anak bangsa ini…

Berhentilah Panggil Aku Cina…
Hai Bangsaku,
Walau Oey Tiong Beng nama lahirku.
Walau Tionghoa adalah sukuku.
Walau ada tanda khusus di KTP-ku.
Walau “Cina Lu” jadi makianku
Walau minoritas adalah agamaku.

Namun,
Karena aku terlahir di bumi pertiwi.
Karena aku bertumbuh di Sriwijaya
Karena aku sekolah yang berbahasa.

Dan,
Selama aku masih makan padi petani desa.
Selama aku masih minum air Sukabumi.
Selama aku masih bernafas di udara Nusantara.
Selama aku masih ternafkah dari sang Nusa.
Dan juga,

Akhirnya aku akan dikubur di tanah Jawa.

Tanah yang ditebus dengan deru tangis pejuang kita.

Tanah yang ditebus dengan darah para Pahlawan bangsa.

Tanah yang tertumpah darah karena Jiwa dikorbankan.

Tanah yang direbut, tanah yang diperjuangkan.

Agar tanah tersebut menjadi merdeka untuk anak kita.
Maka,
Mataku hanyalah untuk memperhatikan lelah saudaraku.
Tanganku hanyalah untuk membopong lemah saudaraku.
Otakku hanyalah untuk memikirkan nasib saudaraku.
Darahku hanyalah untuk menyelamatkan nyawa saudaraku.
Hatiku hanyalah untuk menyembuhkan luka perih saudaraku.

Karena…
Jiwaku sudah kuserahkan untuk bangsaku. Bangsa Indonesia…
Bangsa yang masih berjuang untuk terus merdeka.

Sebenar-benarnya,
Aku adalah orang Sumatera.
Aku adalah orang pribumi.
Aku adalah orang Indonesia.

Dan,
Sebelum nafasku berhembus akhir.
Sebelum nyawaku kembali ke angkasa.
Sebelum kulitku menyatu ke tanah.

Aku akan terus berkarya bagi bangsaku.
Akan kuberikan hanya yang terbaik.
Yang terbaik dari tulang tenagaku.
Yang terbaik dari otot pikiranku.
Yang terbaik dari lubuk hatilku.

Agar Indonesiaku makin dihargai.
Agar Indonesiaku makin dihormati.
Agar Indonesiaku makin bersih.
Agar Indonesiaku makin putih.
Agar Indonesiaku makin wangi.
Agar Indonesiaku kembali bangga menjadi Indonesia…

Dan, agar saudaraku berhenti memanggilku Cina.
Karena aku adalah orang asli Indonesia. Aku juga orang pribumi…
Karena akupun terlahir dari Ibu Pertiwi empunya Bumi Nusantara ini…

Ternyata, aku orang Pribumi…
Bukan orang Cina…

Renungan Hari Merdeka di akhir hari Jakarta, 17 Agustus 2010

(Renungan batinku, Oey Tiong Beng yang dipaksa rezim Orde Baru untuk ganti nama, sehingga dipilihlah nama Krishnamurti, yang sekarang menjadi Mindset Motivator karena terinspirasi oleh Jiwa sang Proklamator)

Harapan Penulis

Semoga tulisan ini menjadi pesan untuk anak cucu saya di masa mendatang saat saya sudah tiada, juga keluarga Tionghoa lainnya. Berjuanglah untuk bangsa ini. Ini bangsa kita. Ini tanah air kita. Ini adalah hidup kita. Ini adalah cinta kita…

Lahir di Indonesia.

Hidup di Indonesia.

Matipun di Indonesia.

Maka hebatkanlah Indonesia.

Demikian artikel ini, yang saya tulis di bandara Soekarno-Hatta karena tertinggal pesawat menuju ke Jogjakarta. Jakarta, 19 Agustus 2010

Krishnamurti, Mindset Motivator

Viewed 10797 times by 3460 viewers

This entry was posted in NLP. Bookmark the permalink.

4 Responses to Tip Praktis NLP#87: Renungan Merdeka “Berhentilah Panggil Aku Cina…”

  1. Bravoo Boss!
    Saluuut!
    Ajak2 donk…
    Semuanya…
    Belum mau beli BB, nanti join milisnya dulu dech!
    Thank you!
    :D

  2. diah says:

    mantap pak! benar sekali!
    Banyak org mengaku2 & bangga dg ke – pribumi – annya, dg lantangnya ngomong sinis : aq jawa, kamu cina! selalu memandang rendah etnis tionghoa! Tapi berbahasa jawa krama dg orangtuanya sendiri pun tak bisa, padahal yang mereka sebut cina ini pun diajari bahasa jawa krama oleh orangtua & punya tata krama kepada sesama manusia, malu dong sama jawa nya elu!
    Intinya, ga usah ngomong jawa, cina, dsb, wong ditanya silsilah nenek moyang aja belum tentu tau sampe ke kakek/nenek buyut nya kok, pede banget… Hidup itu sudah banyak tantangan, ga usah diperkeruh dg perilaku negatif.
    Mau jawa kek, mau keturunan keraton kek, mau blasteran cina, mau blasteran jepang, mau darah campur2 kek, kalo kelakuan masih kayak binatang purba, ke laut aja deh lu… Yang penting kita:
    Lahir di Indonesia.
    Hidup di Indonesia.
    Matipun di Indonesia.
    Maka hebatkanlah Indonesia.
    setuju?!

  3. atikah says:

    Siiippppp…..semoga…dengarlah dan bacalah wahai org2x non pribumi, yg mata sipit atau belo, yg kulitnya putih atau coklat. semoga lebih byk lg manusia2x dgn idealisme seperti Pak Krisnamurti. tdk hanya satu cina atau satu arab atau satu india atau satu suku dan bangsa lain yg lahir di bumi pertiwi ini. Tapi semoga akan byk lagi yg sadar dan bangga dgn negri ini, menjadi warga negri ini. walau saya tdk ngefans dgn pak karno, tp saya nge fans dgn anak bangsa yg brillian dan mem briliani byk anak bangsa lagi di negri ini.Kagak pinter sendirian….kagak keren sendirian…kagak hebat sendirian…kagak berilmu sendirian.

    Nyok….rame2x kita ganyang malaysia…eh salah….kita bangkit menjadi bangsa besar bersama, kalo sendiri bukan bangsa namanya. kalau yg muncul namanya krisnamurti sah2x saja, tapi ilmunya mengalir ke pelosok negri dan kemudian tanpa ia sadari lahir lagi anak2x bangsa yg mgkn suatu saat namanya bahkan lbh besar dr gurunya, yg mgkn gurunya sendiri lupa atau gak tau ini anak didik kapan dia didik. tp tulisan dan semangat tak pilih murid. Anda matipun nanti, amal sholeh mengalir, krn byknya ilmu yg di manfaatkan oleh anak negri ini dan anak negri tetangga sebelah atau tetangga jauh.

    salam Hormat dan salam hangat utk Pak Oey Tiong Beng…

  4. Eric Suryawarman Tanzil says:

    Bekasi, 28 November 2010

    Berbicara masalah kesukuan dan rasisme di negri ini sudah bukan barang dagangan yang bernilai lagi, bahkan disebut barang usang! Saya sendiri masih keturunan dari etnis TiongHoa. Dan terus terang saja Saya bangga menjadi Bangsa Indonesia beretnis TiongHoa. Sama bangganya mereka yang menyatakan dirinya sebagai Bangsa Indonesia dari suku Jawa, Batak, Sunda, Ambon, dan lain sebagainya. Coba Anda pikir ulang lagi pemikiran Anda itu, apa yang membedakan diri Anda dan orang beretnis TiongHoa atau etnis lainnya? Jawabannya, cara Anda mengartikan dan memberi nilai pada diri Anda sendiri. Alangkah naifnya, yang mengaku berbudaya dan memiliki filosofi: Bhinneka Tunggal Ika masih membeda-bedakan satu dengan lainnya? Alangkah lemahnya sikap mental bangsa, kalau masih memandang perbedaan itu sebagai ancaman?! Petik uji pemikiran yang menjadi bagian budaya Bangsa Indonesia ini. Bagaimana mau maju, bagaimana dapat berkompetisi kalau masih berpola pikir seperti katak dalam tempurung, bagaimana dapat berbangsa yang berbudaya luhur?
    Bangsa ini mungkin lupa dengan sejarahnya, atau malah belajar sejarah yang salah? Ada cacat dalam sejarah, dimana politik penjajah “devide et impera” masih meracuni pola pikir bangsa ini. Kalau “ketakutan” semacam itu masih meracuni, sampai anak cucu pun akan mengalami ketakutan! Sadar? Mau maju? Belajarlah untuk saling menghargai sesama hidup, ‘entah etnis apapun Anda di negri ini! Belajarlah untuk hidup dengan multi kultural yang kondusif. Belajarlah untuk melakukan yang terbaik, ya!!! Bangsa Indonesia harus keluar dan merdeka dari sikap mental yang bobrok!
    Terima kasih.

    Salam Perubahan,
    Eric Suryawarman Tanzil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>