Tip Praktis#86: Jabulani “Bola Afrika, Guru Anak Manusia”

Don’t cry for me Argentina
Kadang hidup ini bisa merana.
Walau sudah usaha sempurna.
Memang bola bisa buat bencana.
So, don’t cry for me Argentina.
Tetap salam dari Krishna…

Demikian sebuah ilham syair muncul, saat penari Tango Argentina kalah total dengan serangan total Sopir Panser Jerman, Sabtu, 3 Juli 2010, sebagai rasa hormat kepada yang kalah, team dari manusia bola legendaris Diego Maradona.

Begitulah Bola Kehidupan
Kehidupanpun seperti sepakbola. Kesuksesanpun seperti sepakbola. Sepakbola hanyalah sebuah permainan. Namun, sarat makna yang bisa dipetik, dipelajari, diserap sehingga tidak lagi menjadi sekedar permainan, namun sebuah filosofi hidup. Pagi harinya, saya terbangun dan saya merenung sejenak, hmmm… datang lagi si ilham syair berikut ini:

Kadang hidup seperti sepak bola.
Ada masanya menang.
Pasti ada masanya kalah.
Ada teriak senang.
Ada seseguk isak.

Itulah kehidupan…
Apapun hasilnya, teruslah berjalan…
Dengan tetap menatap tegak ke depan!!!

Semua hanyalah permainan.
Hiduppun hanyalah permainan.
Mainkan dengan indah kehidupan ini.
Mainkan dengan benar…

Belajar dari bola Jabulani
Sepertinya penemuan canggih teknologi bola Jabulani adalah kambing hitam semua kekalahan di pesta sepak bola dunia 2010, Afrika Selatan, kali ini. Jabulani penyebab pemain tidak bisa optimal. Jabulani ini brengsek…

Memang Jabulani brengsek, karena bisa memupuskan harapan, menghancurkan kesombongan, merontokan semangat keangkuhan pemain Top, meremukkan strategi logika kehebatan Pelatih, meruntuhkan keegoan hati manusia bahwa segala rancangan manusia, bisa rusak luluh lantak di lapangan bola. Teriakan Gol bisa tiba-tiba senyap, saat Jabulani naik meninggi 2 milimeter saja agar menyentuh mistar gawang dan melesat ke udara, bukan terjebak jaring sang kiper. Jabulani penyebab semua masalah sepakbola kali ini. Jabulani ini edan…

Tapi sebenarnya, jika kita mengijinkan diri ini diam sejenak, hening sejenak, tutup mata beberapa menit, mengendorkan syaraf kekesalan, duduk lebih santai, buang nafas lebih banyak, ngobrol sebentar dengan sang Jabulani dalam diri ini. Mungkin ada secarik sobekan jawaban: “Jabulani ini ternyata guru sepakbola lapangan batin”.

Jabulani ternyata bukan bola biasa
Ya, betul sekali. Walau bentuknya tetap jadi bulat, Jabulani dijahit dari potongan-potongan unik, sehingga menghasilkan gerak putar yang bisa unik pula. Arah tendangan pemain bola, kadang bisa ditebak, kadang tidak bisa ditebak. Ah, persis seperti hati seorang manusia, kadang bisa ditebak, kadang tidak bisa ditebak he he…

Saya yakin sekali, karena ini perhelatan dunia, dimana ratusan juta pasang mata terfokus ke lapangan rumput hijau di Afrika sana, maka ini kesempatan besar pula Sang Pencipta untuk menyampaikan pesanNya, jika manusia punya kejelian untuk membacanya.

Apa itu? Saya juga tidak tahu… Apakah ini benar pesan Sang Pencipta? Saya juga tidak tahu, saya juga tidak yakin. Saya tidak berani menilai demikian, karena manusia ini, si Krishnamurti ini terbatas dan bisa keliru. Jadi, tulisan inipun hanya mereka-reka, siapa tahu bisa memungut hikmah dari lapangan bola hijau, yang ditengah titiknya ada Jabulani. Mari…

Mindset Manusia Penyerang
Memang ada keberanian yang luar biasa di manusia ini. Berani maju ke pihak musuh dengan resiko yang paling besar, bisa patah kaki, bisa terpelanting, juga bisa dimaki-maki penonton, kalau Jabulani ditendang melenceng padahal sudah berada di gawang kosong.

Hebatnya, walau berkali-kali gagal memasukkan Jabulani ke gawang, namun bak pepatah “Panas setahun dihapus oleh hujan sehari”, maka saat sebuah sundulan Jabulani menyudut di ujung atas gawang dan terlepas dari telunjuk jadri kiper lawan, maka teriakan histeria penontonpun bergema luar biasa, segala kesalahan terhapuskan. Khususnya mereka yang taruhan uang he he… sebenarnya si penjudi teriak kemenangan, bukan untuk si pemain bola, tapi untuk uangnya, dasar materialis ya…

Nah, dari 11 pemain bola ini, siapa yang paling sering masuk koran, majalah dan TV? Ya, si penyerang ini. Makanya, mulailah sang ego diberi makan, kepalapun makin membesar. Dadapun makin membusung. Hidungpun makin mendongak. Akulah yang sang penentu kemenangan. Akulah kunci kesuksesan team. Akulah yang paling berharga. Akulah yang patut menerima uang paling banyak. Akulah yang paling populer.

Namun, apakah aku menyadari bahwa aku bisa memasukkan Jabulani karena operan temanku di sayap kiri? Kadang, ada ide tendangan langsung kiper yang terbang jauh ke depan gawang lawan dan pas aku ada disana, sehingga hanya satu tedangan kecil, Jabulanipun melorot ke jaring lawan dan sound system lapanganpun langsung menghentak: “Gooool!!! Gooool!!!”, kamera Tv-pun langsung menyorot aku, bukan si Kiper… Begitulah kehidupan he he… Gumam, sang Kiper.

Lalu, pernahkah aku berpikir: “Sebenarnya, siapa yang mencetak gol? Aku atau si Kiper? Aku atau si Gelandang tengah?”. Jawaban ini, akan menentukan hasil yang sangat berbeda dalam hidup ini.

Mindset Sial Sang Kiper
Mengapa saya tambahan sial? Sungguh tidak mudah memiliki mindset seroang kiper, baik di lapangan bola, maupun di kehidupan ini. Walaupun sang Kiper bisa menahan bola sampai terjatuh, menolak sampai tertendang, menepis sampai pipis (he he he), menangkap sampai sesak dada dan menyelamatkan gawang dari 20 tendangan keras pihak lawan, namun yang diterima hanylag tepukan tangan biasa, paling kadang suitan keras beberapa penonton bola saja, juga teriakan terima kasih dari penjudi bola yang bertaruh uang atas nama team ini.

Namun, hmmm… namun, bila ada satu saja “kelalaian” sang kiper akibat tipu gerak pemain lawan dan menyundul Jabulani masuk ke dalam gawang, maka langsung teriakan marah, kecewa, sedih, makian keras diarahkan pada sang kiper. Pujianpun langsung berubah menjadi makian… Edan!!!

Memang, manusia sudah gila. Masak, ada 2 jenis pemain di sepakbola ini yang menjadi satu bagian, satu team yakni Penyerang dan Kiper, kok bisa dihargai sangat berbeda? Mereka tidak bisa main sendirian, harus bersebelas. Kalo satu lawan satu, itu namanya badminton single. Sepakbola yang dimainkan satu lawan satu, itu namanya latihan. Sepakbola harus berupa team. Jumlahnya 11 pemain. Tapi, sekali lagi itulah kehidupan…

Mindset Pengumpan
Berat juga. Mengapa demikian? Sulit lho punya jiwa pengumpan ini. Memberikan kesempatan, berbagi peluang, mengoper bola ke teman penyerang agar Jabulani bisa masuk ke gawang lawan. Setelah masuk, pengumpanpun terlupakan. Pengumpan tidak bisa lari kemenangan di lapangan dan berteriak bahwa dialah yang mencetak goal. Selalu format lari kemenangan ini, si Penyerang di depan, teman-teman lain mengikutinya he he… Nasib, oh nasib…

Membuat orang lain sukses, sungguhlah sebuah mindset yang sangat mulia. Orang lain yang dapat nama, orang lain bahkan dapat hadiah lebih banyak, orang lain yang dipuja-puji, orang lain yang ditepuki, orang lain yang naik panggung kemenangan.

Saya sangat suka dengan kalimat Jawara Jesuit ini: “Bila kita tidak peduli siapa yang mendapat pujian, maka akan banyak karya besar yang tercipta”

Wuih, sebuah sikap hidup yang indah mulia sekali, bukan? Itulah, kira-kira mindset si Pengumpan. Lari kesana kemari, paling lelah, paling berkeringat, latihan paling banyak, memberi bola, memberi umpan di posisi yang tepat, bisa membaca situasi, juga harus ikut menjaga pertahanan, naik ke atas, turun ke bawah, namun harus rela dan ikhlas jika pujian ditujuan bukan untuknya he he… That’s life…

Tugas Jabulani hanyalah diam.
Masih banyak lagilah, hikmah yang diemban oleh Jabulani kali ini. Menurut pengamatan saya, ini bukan lagi pesta sepakbola, namun pelajaran hidup. Jabulani tidak hanya mengijinkan dirinya ditendang tanpa hikmah, namun Jabulani mengajarkan banyak hal.

Kecaman demi kecaman yang diterima Jabulani, namun dia tetap diam. Dia tetap tidak berkata-kata, karena dia tidak punya hak untuk bicara.

Jabulani diperintahkan sang Pencipta hanya untuk diam saja.
Jangan ngomong, jangan bicara, tutup mulut.
Biarkan manusia sendiri yang mengunyah hikmahnya.
Biarkan penyerang belajar dari kegagalan kali ini.
Biarkan kesombongan itu melorot rontok.
Biarkan keegoan itu pupus dari hati ini.
Ijinkan pengumpan berada memimpin parade.
Persilakan kiper mengangkat piala kemenangan.

Sekali lagi ini bukan sekedar sepak bola.
Ini bukan hanya sebuah bola bulat Jabulani.
Perhelatan kali ini, bukan hanya pertandingan.

Ini bukan soal menang kalah.
Ini tentang kehidupan.
Tentang sikap hidup manusia.
Ini tentang Jabulani.

Jabulani ini bukan bola biasa.
Jabulani adalah bola yang hidup.
Jabulani adalah guru kita semua.

Jabulani adalah guru kehidupan.

Paling tidak untuk batinku…
Yang bisa rapuh…

Suramadu, 5 Juli 2010
Krishnamurti

Viewed 9360 times by 3336 viewers

This entry was posted in NLP. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>