<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Krishnamurti - Mindset Motivator &#187; NLP dan Motivasi</title>
	<atom:link href="http://mindsetmotivator.com/tag/nlp-dan-motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mindsetmotivator.com</link>
	<description>to be a World Class Indonesian Motivator...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 08:39:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#80: Mister Bean “Hanya 5 menit Bos Nyebelin Jadi Wakakakak…”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp80-mister-bean-%e2%80%9chanya-5-menit-bos-nyebelin-jadi-wakakakak%e2%80%a6%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp80-mister-bean-%e2%80%9chanya-5-menit-bos-nyebelin-jadi-wakakakak%e2%80%a6%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 07:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp80-mister-bean-%e2%80%9chanya-5-menit-bos-nyebelin-jadi-wakakakak%e2%80%a6%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[“Ampun!!! Saya mau berhenti aja. Saya nyerah deh… Saya sudah tidak tahan dengan Bos saya yang nyebelin banget, mana gaji gak naik-naik. Huh! Sebel!” Demikian emosi seorang teman ber-bbm (Black Berry Messenger) pada saya suatu sore. Karena sedang marah dan &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp80-mister-bean-%e2%80%9chanya-5-menit-bos-nyebelin-jadi-wakakakak%e2%80%a6%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p>“Ampun!!! Saya mau berhenti aja. Saya nyerah deh… Saya sudah tidak tahan dengan Bos saya yang nyebelin banget, mana gaji gak naik-naik. Huh! Sebel!”</p>
<p>Demikian emosi seorang teman ber-bbm (Black Berry Messenger) pada saya suatu sore. Karena sedang marah dan tidak bisa menelpon, akhirnya sayapun memandu dia via tulisan chatting di bbm tadi. Hanya sekitar 5-10 menit kemudian, dia sudah tertawa-tawa kembali. Kok, bisa? Itulah ilmu NLP he he… Sama hebatnya seperti PLN, yakni sama-sama menerangi mata hati yang redup.</p>
<p>Anda mau mencoba ide ini?</p>
<p><span id="more-219"></span></p>
<p>Namun, ada syaratnya. Anda harus punya (minimal) seseorang yang Anda tidak sukai. Sepertinya saya mendengar suara dalam hati Anda yang mau mengatakan: “Saya punya banyak, tauk!”. Ha ha ha, ketahuan. Ya, umumnya kita punya beberapa koleksi orang-orang yang tidak kita sukai, yang dibenci, yang disebelin, yang membuat pusing, yang membuat mual perut ini. Hanya kita belum tahu saja cara menetralkan rasa ini. Baik, mari kita mulai. Siaaap ya…</p>
<p>Sumpah Tutup Mulut</p>
<p>Sebelum memulai latihan ini, Anda harus bersumpah dengan diri Anda sendiri. Yakni Anda tidak boleh menceritakan kepada siapapun gambaran orang yang telah Anda rubah di dalam benak Anda. Apalagi pada orang yang bersangkutksan. Sangat rahasia. Cukup untuk koleksi pribadi ya… Setuju? Kalo ya, lanjuuut…</p>
<p>Tahap Persiapan:</p>
<p>Tarik nafas dulu yang dalam, agar siap untuk mual lagi sejenak, sebelum menjadi netral. Lalu, hembuskan melalui mulut sebanyak-banyaknya. Lakukan beberapa kali sampai terasa lebih nyaman…</p>
<p>Sekarang pejamkan mata. Lalu, bacalah kalimat berikut ini dengan mata terpejam. Ha ha ha… kok, nurut aja. Ya, gak mungkinlah. Gimana dong, memandunya? Gunakan Handphone atau alat perekam digital lainnya, untuk merekam dulu panduan berikut ini. Bacalah kalimat berikut ini dengan kecepatan 1/3 lebih lambat dari kecepatan rata-rata bicara Anda.</p>
<p>Namun, jika Anda bisa melakukan panduan ini dengan mata terbuka, ya baik sekali. Silakan saja…</p>
<p>Jadilah Mister Bean</p>
<p>Saya sangat yakin akan sangat sulit untuk membayangkan Mister Bean berada di depan Anda. Sulit sekali bukan, membayangkan di depan Anda terjatuh dari langit seorang yang sangat cerdik, lihat, pintar, pandai namun sangat lucu, yakni Mister Bean yang matanya besar, hidungnya sangat mancung, tersenyum sangat lebar dan idenya sangat nakaaal…</p>
<p>Sedemikian sulitnya, sehingga Anda sekarang malah tersenyum-senyum melihat Mister Bean di depan Anda dan siap Anda sedot, siap di hisap masuk ke dalam diri Anda dalam hitungan satu tarikan nafas. Satu… Dua… Tiga… Sedot si Mister Bean bersamaan Anda menarik nafas dan “Boom” Andapun menjadi Mister Bean yang tersenyum lebar, senyuman nakal seorang bocah cerdik… Nikmati sejenak menjadi Mister Bean sampai terasa “gila”-nya. Baru lanjutkan ke tahapan berikutnya.</p>
<p>Panduan Mister Bean-pun dimulai…</p>
<p>   1. Bayangkan “Bos Nyebelin” atau orang lain yang tidak Anda sukai, atau seseorang yang ingin Anda “lupakan” berdiri setengah jongkok di depan Anda. Agar dia bisa berdiri stabil, rubah bentuk kakinya seperti kaki bebek yang lebaaar ha ha ha… Bisa nggak? Kalo bisa, buat makin lebar dan makin lebar, biar berdirinya stabil. Harus bisa yooo, wong kita sedang main dengan pikiran kita sendiri, kok!<br />
   2. Nah, kita mulai dari atas. Mari kita menjadi tukang cukur rambut. Kira-kira rambutnya mau diapain? Dibuat gondrong, dibuat botak, dibuat pitak ha ha ha… atau disisakan sepotong rambut berbentuk pulau Kalimantan ha ha ha? Lakukan sekarang juga. Baru dilanjutkan ke tahap berikut ini…<br />
   3. Sekarang, mari jadi tukang rias. Kulit mukanya mau diganti warna apa? Jadi berwarna albino? Jadi berwarna hitam pekat? Atau berwarna hijau ular keket ha ha ha… Lakukanlah sekarang juga! Bisa, kan? Baru lanjut lagi…<br />
   4. Yok, wajahnya kita beri cat warna-warni. Gimana kalo di-cat warna bendera negara tertentu? Seru, kali ya… Silakan di-cat semau Anda, terus kupingnya di cat warna pink hi hi hi, kayak lagi ngerayain hari Valentine. Lalu, boleh juga ya bulu di kupingnya ditarik dan terus ditarik sampai jadi panjangnya 2 meter ha ha ha… Lalu, cat warnya jadi warna uban… Lakukan sekarang! Bisa, kan? Baru lanjut lagi…<br />
   5. Matanya dibuat bulat jengkol, kali ya? Atau sipit hanya garis-garis hi hi hi… Atau, dibuat hitam semua ya tapi sereeem. Ehm, putih semua, gimana? Silakan diatur. Hidungnya mau dimancungkan atau dibuat rata ha ha ha… Lalu, bulu hidungnya dibuat sangat panjang panjang kayak kumis dan jenggot he he… Di-bonding, keren kali ya? Atau, diwarnai warna putih metalik? Ayo, dibuat gila sedikit he he…<br />
   6. Nah, Anda pasti sudah punya ide untuk meramu mulutnya ya…? Bibirnya mau dibuat dower, kan? Giginya mau diwarnai kuning duren, kan? Juga, mau dibayangkan giginya panjaaang dan besaaar, item-item hiii sereeem…<br />
   7. Oke, bajunya mau dipakaikan baju tidur piamanya Mister Bean yang garis-garis atau yang model jerami, jadi bisa kelihatan “itu”-nya ha ha ha… Apa tuh? Ya, nggak tahu. Karena itu imajinasi Anda…<br />
   8. Nah, sekarang Anda boleh menambahkan dia berlari-lari atau mondar-mandir di catwalk seperti seorang foto model atau suster ngesot he he…<br />
   9. Silakan terus bermain-main dengan pikiran Anda, sebebas mungkin, seliar mungkin, segila mungkin, selucu mungkin…. Yang perlu diingat adalah ini hanya untuk bermain dengan pikiran Anda sepikiran Anda, bukan untuk menceritakannya ke orang lain. Kunci yang terpenting setelah bermain dengan pikiran Anda, adalah memetik…</p>
<p>Hikmah</p>
<p>Rasakan perasaan Anda sekarang. Apakah makin nyaman, apakah lebih nyaman, apakah lebih enak? Semoga demikian. Lalu, yang terpenting adalah pada saat emosi dalam diri kita sudah netral lagi, kita secepatnya memetik butir-butir hikmah dari kejadian yang telah kita alami dengan orang tersebut.</p>
<p>Heninglah sejenak, putarlah kembali pengalaman bersama orang tersebut. Amati, amati dan amati. Pasti ada sebutir hikmah yang bisa diambil. Pasti ada… Dan, ambillah. Simpanlah dalam hati. Agar terjadi perubahan yang lebih baik dalam diri ini.</p>
<p>Kadang pundak kita menjadi lebih kuat saat ada tekanan. Kadang, hambatan membuat diri ini menjadi lebih kreatif. Kadang, suara kasar melatih hati menjadi lebih sabar. Kadang, makian membangunkan diri yang tertidur. Kadang, didiamkan membuat kita sadar ada kekeliruan dalam diri… Tinggalkan masalahnya, hanya petiklah hikmahnya.</p>
<p>Kekuatiran saya</p>
<p>Nah, persoalannya sekarang. Bagaimana jika Bos Anda juga baca artikel ini. Dia pasti tahu perubahan wajah Anda, yang sebelumnya tertekuk sebel, kok sekarang tiba-tiba jadi senyum-senyum sendiri…</p>
<p>Semoga Bos Anda menyapa: “Baca artikel Mister Bean niih yeee…”. He he he rasain, elo! Saya gak mau bertanggung jawab, aaah… Akhir kata, saya ingin menyampaikan sponsor berikut ini:</p>
<p>Adalah hak Bos Anda untuk marah-marah</p>
<p>Adalah hak Bos Anda untuk nyebelin…</p>
<p>Namun,</p>
<p>Adalah hak Anda juga untuk bekerja dengan baik.</p>
<p>Adalah hak Anda juga untuk memberikan yang terbaik.</p>
<p>Adalah hak Anda juga untuk memaafkannya.</p>
<p>Adalah hak Anda juga untuk tetap mencintainya.</p>
<p>Penerbangan Jakarta menuju Padang, Selasa pagi 24 November 2009.</p>
<p>Krishnamurti</p>
<p> Viewed 5181 times by 1831 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp80-mister-bean-%e2%80%9chanya-5-menit-bos-nyebelin-jadi-wakakakak%e2%80%a6%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#79: Tiuuup Ikhlas “Teknik Lupakan Pacar Cinta Pertama”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp79-tiuuup-ikhlas-%e2%80%9cteknik-lupakan-pacar-cinta-pertama%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp79-tiuuup-ikhlas-%e2%80%9cteknik-lupakan-pacar-cinta-pertama%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 07:51:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[“Duh, gara-gara Facebook saya jadi teringat lagi dengan pacar cinta pertama saya, nih!” Demikian seorang cerita teman sambil menggaruk kepala, walau tidak ada ketombe he he… Entah kenapa, dari pengalaman saya memandu acara Terapi Musik di Radio Sonora 92.0 FM &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp79-tiuuup-ikhlas-%e2%80%9cteknik-lupakan-pacar-cinta-pertama%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p>“Duh, gara-gara Facebook saya jadi teringat lagi dengan pacar cinta pertama saya, nih!”</p>
<p>Demikian seorang cerita teman sambil menggaruk kepala, walau tidak ada ketombe he he…</p>
<p>Entah kenapa, dari pengalaman saya memandu acara Terapi Musik di Radio Sonora  92.0 FM Jakarta, salah satu TopList pertanyaan adalah melupakan seseorang yang pernah dicintai di masa lalu. Yang lainnya, mengikhlaskan pacar yang menikah dengan orang lain. Serupa lainnya, bayangan pacar cinta pertama yang tetap muncul walau sekarang sudah menikah.</p>
<p><span id="more-217"></span></p>
<p>Mengapa bisa muncul kondisi demikian?</p>
<p>Ya, tentu si Facebook-lah biang keroknya he he… Mengapa? Karena si-“muka-buku” itu sangat membantu menghubungkan seseorang dengan orang lainnya sedemikian mudah dan cepat. Bayangkan, kita begitu mudahnya bisa bertemu kembali dengan teman SD yang sudah tidak pernah berjumpa sejak 30 tahun lalu.</p>
<p>Nah, ditambah lagi kita pernah menyimpan kenangan indah dengan orang itu. Wajahnya tersimpan indah selama 30 tahun di “hati” kita cihuuuy… “Sudah kita lupakan, sudah kita lupakan. Itu adalah masa lalu”, demikian kita mengatakan jika ditanya tentang wanita “cantik” tersayang saat SMP tersebut he he…</p>
<p>Kekuatan Sebuah Memori Tersayang</p>
<p>Namun, saat ‘wajah lama” itu muncul kembali dengan raut yang sudah berbeda, lebih tua, gigi ada yang ompong, sudah agak peot, ada bekas jerawat, entah kenapa perasaan kita bisa memutar kembali film tentang “Cinta Pertama” yang cantik indah versi 30 tahun yang lalu. Puciiiing…. (Sssst… Ini pengalaman pribadi, tauk!) he he… Ternyata otak tidak mengenal “waktu”. Kita bisa memutar film pengalaman masa lalu yang indah, menjadi film masa kini…</p>
<p>Begitulah kekuatan pikiran, kekuatan otak menyimpan memori, sebuah memori yang di-save dengan perasaan yang kuat yakni perasaan Cinta Pertama. Sungguh powerfull, sungguh dahsyat. Bila digunakan dengan benar, seperti untuk menanamkan sebuah impian, maka kita akan mempunyai tenaga yang sangat kuat, untuk terus mengejar dan mewujudkan impian tersebut.</p>
<p>Mengganggukah Memori Tersayang itu?</p>
<p>Nah, pertanyaan berikutnya. Mengganggukah Memori Tersayang itu? Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung kita saja, si pemilik pikiran tersebut. Selama, kita bisa “melupakan” cinta pertama itu, tentu memori tersayang ini tidaklah terlalu mengganggu. Namun, jika memori tersayang ini adalah pengalamanan yang sangat indah dan masih sangat melekat dengan hidup kita saat ini, tentu sangatlah sulit melepasakannya. Ya, sekali lagi kuncinya adalah melepaskan keterlekatan. Pertanyaan selanjutnya…</p>
<p>Mungkinkah dilepaskan?</p>
<p>Tentu sangat mungkin. Beratkah? Iyalaaah… Kalau memang saat itu kita sungguh-sungguh mengalami Cinta Pertama itu. Jujur nih he he…</p>
<p>Berikut ini sedikit ide praktis bagaimana melepaskan ataupun melupakan pacar cinta pertama kita. Ide atau teknik ini, hanyalah ringkasan dari beberapa pengalaman yang pernah saya lakukan sendiri, baik saat bertemu langsung dengan teman-teman yang memerlukan bantuan ataupun hasil dari respon para pendengar acara di radio yang saya pandu. Nah, berikut ini kunci yang paling penting…</p>
<p>Benarkah aku ingin melepaskan memori indah tersebut?</p>
<p>Ya, pertanyaan awal yang paling penting. Apakah aku benar-benar ingin melepaskan memori indah tersebut? Karena perlu sebuah keputusan yang kuat, sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Atau, malah jangan-jangan selama ini aku menikmati memori indah bersama pacar pertamaku? Jangan-jangan aku menyesal dengan kehidupan saat ini (maksudnya dengan pasanganku saat ini ha ha ha)? Ah, jangan-jangan aku masih mencintai pacar cinta pertamaku?</p>
<p>Pertanyaan lainnya: Apakah aku mau menyimpan memori pacar pertamaku sampai mati?  Apakah mau mengikuti perkataan Mbah Surip: “Tak gendong kemana-mana…” Nah, jika kita sudah benar-benar yakin ingin melepaskan memori indah dengan pacar cinta pertama itu, barulah…</p>
<p>Ambil Keputusan!</p>
<p>Ya, ambillah sebuah keputusan. Keputusan untuk melupakan. Keputusan untuk melepaskan. Keputusan untuk berubah. Keputusan untuk melanjutkan perjalanan yang baru. Keputusan untuk hidup baru. Keputusan untuk hidup di dunia nyata, bukan di masa lalu. Keputusan untuk menerima kenyaaan saat ini. Keputusan untuk hidup di saat ini, sekaraaaang…</p>
<p>Setelah membuat keputusan, maka langkah-langkah untuk melupakan pacar cinta pertamapun menjadi lebih mudah.</p>
<p>Tahapan melupakan pacar cinta pertama:</p>
<p>   1. Ambillah posisi duduk yang nyaman. Memutar kembali lagu kenangan cinta Anda, cukup membantu untuk memutar kembali kisah film yang pernah terjadi he he…. Lalu, pejamkan mata dan tariklah nafas yang ringan dan buanglah sebanyak mungkin, sampai Anda merasa makin nyaman dan makin nyaman.<br />
   2. Setelah terasa makin nyaman, bayangkan kembali diri Anda saat masih remaja, mungkin saat SMP, mungkin saat SMA, saat Anda merasakan jatuh cinta yang pertama atau boleh juga memori lainnya yang Anda ingin “buang” atau lepaskan.<br />
   3. Bimbinglah diri Anda yang masih remaja tersebut ke sebuah tempat atau ke sebuah pengalaman, dimana Anda merasa paling percaya diri. Ini adalah satu tahapan proses yang paling penting, bahkan sangat penting sebelum ke langkah berikutnya. Lalu, kuatkan perasaan percaya diri itu, buatlah lebih kuat, rasakan makin kuat dan makin kuat. Jadilah sebuah kekuatan yang sangat dahsyat.<br />
   4. Setelah perasaan percaya diri Anda menjadi sangat kuat, sekarang dengan gagah berani, munculkan kembali di depan Anda, si Pacar Cinta Pertama itu.<br />
   5. Lalu, lihatlah matanya dan sampaikan perasaan yang Anda ingin sampaikan. Bila ingin marah, lepaskan perasaan tersebut. Lepaskan seluruh perasaan yang dulu belum pernah Anda sampaikan. Apa saja… Termasuk pertanyaan yang belum pernah Anda dapatkan jawabannya. Atau, malah pernyataan yang belum pernah Anda sampaikan, sehingga Anda menyimpan perasaan menyalahkan diri sendiri. Intinya, pada bagian ini sampaikan perasaan Anda seluruhnya. Terus lepaskan dan lepaskan… Terus buang dan buang… Sampai seluruh perasaan yang tersimpan dalam diri Anda terlepaaas… Dan, Anda merasa diri Anda sangat ringan. Barulah, melanjutkan tahap selanjutnya.<br />
   6. Minta ijin kepada pacar cinta pertama itu atau minta kepada yang menciptakannya (maksudnya Allah yang Maha Besar) agar dia “menjauh” dari benak Anda. Atau, boleh juga Anda yang meminta ijin untuk menjauh. Anda yang mengambil keputusan menjauh. Pilih yang Anda rasa pas untuk Anda.<br />
   7. Lalu, setiap tiupan nafas yang terhembus dari mulut, ikhlaskan pacar cinta pertama menjauh dari diri Anda dan ikhlaskan semakin menjauh dan semakin menjauh. Teruslah tiup nafas Anda sampai gambaran pacar cinta pertama Anda itu sirna dari benak Anda.<br />
   8. Jika Anda yang memilih menjauh, maka setiap tiupan nafas, tinggalkan pacar cinta pertama Anda di tempat itu dan tinggalkan dengan ikhlas. Anda yang menjauh dan menjauh sampai pacar sinta pertama Anda tidak terlihat lagi.<br />
   9. Setelah di benak Anda plong dan kosong, maka baik sekali mengambil dan memetik sebuah hikmah dari pengalaman bersamanya. Buatlah sebuah hikmah karena memang pasti ada hikmah, paling tidak ada sebuah.<br />
  10. Baik juga sesi ini diakhiri dengan doa, baik untuk dia yang telah menjadi “MANTAN” pacar Anda, doakan agar dia bahagia…<br />
  11. Tarik nafas yang dalam, kembalilah ke posisi Anda saat ini. Dan, hiduplah pada saat ini…</p>
<p>Demikian ide ini, semoga bisa berguna. Teknik ini semakin lengkap dan sederhana karena pelajaran langsung yang saya peroleh dari Guru saya. Untuk itu, saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Guru saya, Bapak Tjokorda Gde Rai dari Ubud, Bali, yang terus berbagi ide-ide terapi kepada saya, yang sebenarnya adalah terapi kehidupan. Bukan lagi terapi diri. Salam hormat dari muridmu…</p>
<p>Di dunia ini tidak ada yang abadi.</p>
<p>Namun kita sering mengabadikannya.</p>
<p>Pantai Kuta, 3 Nov 2009</p>
<p>Krishnamurti – Mindset Motivator</p>
<p>NB:</p>
<p>Teknik ini akan saya bawakan sebagai Panduan Aktif pada acara Terapi Musik di Radio Sonora 92.0 FM Jakarta pada hari Minggu, 15 November 2009 jam 22:00-24:00 yang juga direlay oleh jaringan Radio Sonora di kota2 berikut:</p>
<p>- Jakarta</p>
<p>- Pangkal Pinang</p>
<p>- Palembang</p>
<p>- Pontianak</p>
<p>- Bandung (Raka FM)</p>
<p>- Semarang</p>
<p>- Jogjakarta</p>
<p>- Solo (Ria FM)</p>
<p>- Surabaya</p>
<p> Viewed 4247 times by 1298 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/12/14/tip-praktis-nlp79-tiuuup-ikhlas-%e2%80%9cteknik-lupakan-pacar-cinta-pertama%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#78: Teknik Saya Sebagai Motivator Selalu Semangat</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/09/13/tip-praktis-nlp78-teknik-saya-sebagai-motivator-selalu-semangat/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/09/13/tip-praktis-nlp78-teknik-saya-sebagai-motivator-selalu-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 00:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[“Pak Krishna, bagaimana bapak membuat diri bapak selalu semangat?” Demikian pertanyaan yang kerap muncul saat saya berbagi motivasi. Menurut saya ini pertanyaan yang aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya selalu termotivasi, bagaimana mungkin saya bisa selalu semangat, bagaimana &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/09/13/tip-praktis-nlp78-teknik-saya-sebagai-motivator-selalu-semangat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>“Pak Krishna, bagaimana bapak membuat diri bapak selalu semangat?”</strong></p>
<p>Demikian pertanyaan yang kerap muncul saat saya berbagi motivasi. Menurut saya ini pertanyaan yang aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya selalu termotivasi, bagaimana mungkin saya bisa selalu semangat, bagaimana mungkin saya selalu percaya diri? Ya, tidak mungkinlah. Kalau saya selalu termotivasi, kapan saya tidurnya ha ha ha…</p>
<p>Jawaban canda yang selalu saya berikan adalah berikut ini: <strong>“Kuncinya agar kita selalu termotivasi dan bersemangat adalah dengan berdiam diri…”</strong>,si penanyapun makin bingung dan saya sangat menikmati wajah melongoh mereka he he… Serius, jawaban yang benar adalah…</p>
<p><span id="more-215"></span><strong>Berdiam</strong></p>
<p>Saya tentu perlu waktu untuk sendiri, saya perlu jedah, saya perlu refleksi diri, saya perlu introspeksi, saya perlu bicara dengan diri sendiri. Saya perlu waktu untuk itu. Saya perlu waktu untuk berdiam. Kapan? Ya, kapan saja saat saya perlukan. Dimana? Ya, dimana saja saat saya perlukan. Seperti saat saya sedang berada di dalam sebuah bus malam, di kegelapan jalan dari kota Pontianak menuju kota Sintang, dalam berdiam diri saat itu saya berdialog dengan diri saya, mengalirlah syair ini bahwa Krishnamurti juga perlu:</p>
<p><strong>Ruang bicara diri</strong></p>
<p>Saat serahkan diri</p>
<p>Saat serahkan nafas</p>
<p>Ada saja cara Allah</p>
<p>Mengatur langkah ini</p>
<p>Menuju tempat sunyi</p>
<p>Ruang waktu yg gelap</p>
<p>Berjalan namun duduk diam</p>
<p>Hanya peluang bicara diri</p>
<p>Ada tapi tiada</p>
<p>Diam tapi bicara</p>
<p>Itulah cara Dia berkata</p>
<p>Saat kita ikut percaya</p>
<p>Saat kita ikut saja</p>
<p>Saat kita percaya saja</p>
<p>Ada saja cara yang indah</p>
<p>Itulah ruang bicara diri</p>
<p>Ruang indah guna terus tumbuih</p>
<p>Kuat dan besar untuk diri</p>
<p>Ikuti saja</p>
<p>Ya, aku ikuti…</p>
<p>Pontianak, 20 Agustus 2009</p>
<p>Krishnamurti – sedang di bus malam menuju Sintang</p>
<p>Berdiam memberikan peluang untuk kita mendengar suara dari dalam diri kita, bisa suara hati, bisa suara perasaan, bisa juga suara “setan”, bisa juga “suara-suaraan” he he… Serem ya? Ya, bisa suara apa saja, kok. Makanya perlu berdiam untuk mengenali mana suara kita sendiri. Mana suara batin ini, mana suara hati ini</p>
<p><strong>Adakah teknik NLP khusus untuk berdiam?</strong></p>
<p>Nah, ini pertanyaan wong edan. Saya sering ditanya tentang hal ini. Mengapa edan? Wong, diam kok perlu teknik. Perlu cara yang benar, perlu teknik NLP. Ya, aneh banget. Diam ya diam saja. Diam membisu, nggak ngomong beberapa waktu karena memang sedang mau ngomong dengan diri. Diam selama sehari, tapa bicara. Boleh pilih, diam beberapa hari. Ya, diam saja. Hanya diam saja, gitu lho!</p>
<p>Memang baik juga, pejamkan mata. Namun, tetap ide yang baik, berdiam diri sambil beraktifitas seperti berkebun, membereskan rumah, beraktifitas sosial, asal tetap berdiam. Mulutnya diplester he he… Mengamati sesuatu, memotret, melukis atau apa saja, yang penting idenya adalah berdiam diri, tapa bicara. Namun, maaf yang saya sampaikan di atas tadi, adalah ide saya, strategi saya, jika mau berdiam diri. Belum tentu pas untuk Anda.</p>
<p>Beberapa pengalaman yang saya dapatkan saat berdiam diri ini, salah satunya:</p>
<p><strong>Perubahan Sikap</strong></p>
<p>Karena suatu peristiwa, saya seringkali mengambil jedah untuk berdiam diri. Sebagai pembicara publik, suka tidak suka, banyak baik pujian atau makian yang diberikan kepada saya. Bila makian, saat diterima bisa menjadi motivasi untuk perbaikan diri, untuk berkarya lebih luas, bisa untuk kebangkitan diri. Nah, yang bahaya adalah pujian. Jika salah terima, bisa menghancurkan, bisa membunuh.</p>
<p>Saya pernah hancur, saya pernah sombong, saya pernah lupa diri, saya pernah ngaco, saya pernah ngawur, saya pernah macem-macemlah… Begitu banyak pujian yang saya terima sejak saya kecil, otak saya sangatlah cemerlang. Saya hanya perlu beberapa waktu saja untuk membaca buku pelajaran, saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan, saya sering disebut teman-teman sebagai anak yang serba bisa. Kepandaian ini bisa membuahkan pujian, juga bisa menghancurkan. Sayangnya, dalam banyak hal saya malah menghancurkan diri saya sendiri, dengan kepandaian yang telah dipercayakan oleh Tuhan.</p>
<p>Perenungan demiki perenungan telah saya lewati, telah saya jalani, sampai suatu saat juga di tengah perjalanan menuju pedalaman Kalimantan Barat, mungkin karena takut tidak bsia kembali dengan selamat ke Jakarta ha ha ha… Muncullah syair ini dalam benak saya.</p>
<p><strong>Hanyalah titik</strong></p>
<p>Sering aku bertanya</p>
<p>Siapakah diriku ini?</p>
<p>Buat apa aku ke bumi?</p>
<p>Sulit kutemu jawabnya</p>
<p>Kadang aku merenung</p>
<p>Mengapa aku tercipta?</p>
<p>Apa rencana ciptaan ini?</p>
<p>Sulit kutemu jawabnya</p>
<p>Kehembus nafas panjang</p>
<p>Kubuang semua tanya</p>
<p>Kulepas semua asa cita</p>
<p>Kupilih diam sajalah</p>
<p>Kupilih terus melangkah</p>
<p>Kupilih diam sajalah</p>
<p>Kupilih terus lanjut saja</p>
<p>Aha, malah kutemu cahaya</p>
<p>Aku hanyalah bulatan kecil</p>
<p>Aku hanyalah titik</p>
<p>Ha ha ha ha….</p>
<p>Ternyata hanyalah titik.</p>
<p>Sosok, Kalbar, 20 Agustus 2009</p>
<p>Krishnamurti</p>
<p>Demikian sahabatku, sungguh saya tidak atau belum punya resep dan strategi bagaimana membuat batin ini bertumbuh. Menurut saya, kuncinya hanyalah perenungan. Dan, penerenungan memerlukan waktu untuk berdiam. Jadi kuncinya hanyalah berdiam. Bukan NLP, bukan Hypnotherapy, bukan juga ilmu-ilmu lain, karena Tuhan menyimpan kunci sukses Anda bukan di Surga, namun di hati Anda, ditempat yang paling dekat dengan diri ini.</p>
<p>Dan, cara membukanya hanya perlu berdiam diri dan masuk ke dalam hati itu. Hati itu milik Anda sendiri, bukan milik orang lain. Teruslah berdiam diri dan berdiam diri, agar…</p>
<p><strong>Kesadaran Diri Meningkat (Self Awareness)</strong></p>
<p>Ya, inilah buah yang indah dalam proses berdiam diri. Saat kesadaran diri meningkat, kitapun akan termotivasi, kitapun akan percaya diri, kitapun akan lebih baik, lebih maju, lebih sukses, ilmu NLP-pun akan menjadi makin dashyat, karena diterapkan dengan kesadaran yang benar.</p>
<p>Saat kesadaran diri ini meningkat, maka teknik NLP yang sangat sederhanapun akan menjadi luar biasa. Bukan NLP yang hebat, namun ditangan siapalah yang membuat NLP hebat. Suksespun bisa dirancang dengan baik dan benar. Pencapaian suksespun akan sangat cepat, lebih cepat yang pernah Anda bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Saya sudah melewati jalan ini dan akan terus berjalan, karena tidak akan pernah selesai sampai nafas ini dihentikan oleh DIA. Semoga Andapun termotivasi untuk melewatinya. Hanya satu jalan menuju sukses yang damai itu yakni hati… Sepotong “daging merah” yang ada di dalam diri kita…Masuklah… Masuklah…</p>
<p>Malampun semakin larut, perjalanan panjang bus malam menuju Sintang seperti sangat pendek, karena syair demi syair tercipta dengan sendirinya. Ini adalah salah satunya dari pengalaman batin saya sendiri, bahwa…</p>
<p><strong>Engkau tidak pernah tinggalkan aku</strong></p>
<p>Ibu awanku… Bunda jiwaku…</p>
<p>Saat batin ini berkeluh</p>
<p>Saat sedih sepi memelukku</p>
<p>Saat semua rasa beradu-adu</p>
<p>Saat anakmu ini berpejam diam</p>
<p>Engkau selalu menyentuh halus</p>
<p>Mengusap wajahku dengan lembut</p>
<p>Menarik selimut agar badanku hangat</p>
<p>Biar nyenyaklah tidurku di alam</p>
<p>Karena memang tidak ada jawab</p>
<p>Hanya cinta yang tercanang</p>
<p>Agar anak-anak terus tangguh</p>
<p>Untuk menyelesaikan cerita</p>
<p>Kisah kehidupan anak manusia</p>
<p>Berpuluh tahun kualami</p>
<p>Beribu masalah kudaki</p>
<p>Berjuta langkah kujalani</p>
<p>Kusimpulkan sebuah yang pasti</p>
<p>Engkau sungguh tidak pernah</p>
<p>Tidak pernah tinggalkan aku…</p>
<p>Karena Engkau satu di hatiku</p>
<p>Terima kasih Ibuku di awan.</p>
<p>Engkau tidak pernah tinggalkan aku</p>
<p>Hanya karya hikmah yang bisa kubawa</p>
<p>Semoga aku bisa menjumpaiMu…</p>
<p>Krishnamurti – Tiga pagi di Bus malam menuju Sintang, 20.08.09</p>
<p>Demikian akhir dari tulisan ini, semoga Anda memahami bahwa saya sebagai Motivator tidaklah selalu termotivasi, tidaklah selalu percaya diri, tidaklah selalu semangat, tidaklah selalu tertawa, tidaklah selalu hebat, tidaklah selalu benar…</p>
<p>Sayapun perlu merenung, sayapun perlu berdiam diri, sayapun perlu lelah…</p>
<p>Sayapun perlu salah…</p>
<p><strong>Krishnamurti</strong> – Sedang di awan dari Aceh ke Jakarta, 11 September 2009</p>
<p>NB:</p>
<p>1. Awalnya artikel ini saya beri judul demikian: <strong>Tip Praktis NLP#78: Diam “Biar Makin Akrab dengan sang Batin”<em></em></strong>, namun karena kesannya terlalu filsafat, jadi saya ganti yang lebih santai. Sori yooo…</p>
<p>2. Bila berkenan, mohon Anda berbagi pengalaman batin Anda di bagian komentar ini yooo. Biar batin kita saling menguatkan dan makin akrab he he…</p>
<p> Viewed 8717 times by 2098 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/09/13/tip-praktis-nlp78-teknik-saya-sebagai-motivator-selalu-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#77: Maaf + Ikhlas “Terapi Lenyapkan Pening Stres yang Cespleng”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/09/06/tip-praktis-nlp77-maaf-ikhlas-%e2%80%9cterapi-lenyapkan-pening-stres-yang-cespleng%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/09/06/tip-praktis-nlp77-maaf-ikhlas-%e2%80%9cterapi-lenyapkan-pening-stres-yang-cespleng%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 00:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Keinginan kuat untuk sembuhlah, yang menyembuhkan. Seorang ibu peserta pelatihan kami “Executive Camp” dari Lampung, terbengong-bengong bingung, bagaimana mungkin sakit pening berat di leher kanan, yang cukup lama dideritanya mendadak lenyap begitu saja, setelah melakukan terapi “Maaf + Ikhlas” yang &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/09/06/tip-praktis-nlp77-maaf-ikhlas-%e2%80%9cterapi-lenyapkan-pening-stres-yang-cespleng%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>Keinginan kuat untuk sembuhlah, yang menyembuhkan.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seorang ibu peserta pelatihan kami “Executive Camp” dari Lampung, terbengong-bengong bingung, bagaimana mungkin sakit pening berat di leher kanan, yang cukup lama dideritanya mendadak lenyap begitu saja, setelah melakukan terapi “Maaf + Ikhlas” yang saya pandu.</p>
<p>Apakah saya yang menyembuhkannya? Tentu saja tidak. Keyakinan ibu tersebutlah yang menyembuhkan sakit yang dideritanya. Keinginan kuat dari ibu tersebut, untuk sembuhlah yang menyembuhkannya. Saya hanyalah berbagi ide saja. Ya, hanya sebuah ide yang bisa cocok untuk ibu tersebut, yang semoga juga bisa cocok untuk Anda.</p>
<p><span id="more-212"></span><strong>Kita tidak tahu pesan Alam Bawah Sadar kita</strong></p>
<p>Tubuh kita sering mengkomunikasikan sesuatu pada kita, namun kita tidak tahu. Alam bawah sadar kita mengirimkan pesan untuk kita dalam rupa rasa sakit, tapi kita obati rasa sakit tersebut, kita “paksa” untuk hilangkan rasa sakit itu dengan berbagai obat. Padahal alam bawah sadar kita memunculkan rasa sakit, karena berawal dari rasa marah yang belum terselesaikan, tapi kita “save” di ulu hati. Rasa benci kita “simpan” di pencernaan.</p>
<p>Karena kita “tidak atau belum” pernah belajar cara alam bawah sadar kita berkomunikasi dengan kita, yaaa makin bingunglah kita saat mengalami sebuah rasa yang <em>nggak</em> nyaman dalam diri kita ini. Strategi yang kita miliki, hanyalah menelan obat pereda rasa sakit atau <em>Pain Killer</em>, yang akhirnya kitapun ikut jadi <em>“Killer”</em> atau pembunuh untuk diri kita sendiri he he he…</p>
<p><strong>Rasa Sakit adalah Pesan Alam Bawah Sadar</strong></p>
<p>Jika kita setuju dan meyakini bahwa rasa sakit adalah pesan dari alam bawah sadar kita, maka jauh lebih baik kita intropeksi ke dalam diri dan bertanya ke dalam diri, apa maksud alam bawah sadar kita dengan adanya sakit tersebut.</p>
<p>Ini akan sangat membantu penyembuhan dari dalam diri, dari pada kita mencari penyebab rasa sakit yang kita alami tersebut, di luar diri kita. Karena memang alam bawah sadar manusia sangat jenius, sangat pandai, sangat pintar, sangat kreatif. Tuhan sungguh telah memberikan rahmat yang luar biasa dalam <em>tubuh</em> manusia ini.</p>
<p>Baiklah, saya akan berbagi ide yang sangat sederhana, bagaimana kita “menyembuhkan” diri sendiri dari berbagai rasa sakit, dengan cara berkomunikasi langsung ke alam bawah sadar kita.</p>
<p><strong>Berikut ini tahapan Terapi Diri Maaf + Ikhlas:</strong></p>
<p>Sebelum Anda melakukan teknik terapi “Maaf + Ikhlas” ini, yakinkan diri Anda bahwa begitu mudahnya teknik ini, sehingga Anda sendiri bisa melakukannya, bahkan sangat mudah juga Anda ajarkan ke orang lain yang sekiranya membutuhkan. <strong> </strong></p>
<p><strong>1. Sentuh dengan telunjuk + jari tengah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pada bagian tubuh yang sedang dirasa sakit, mungkin kepala bagian belakang, leher, dada, perut, kaki atau bagian manapun, sentuhlah dengan jari telunjuk dan jari tengah Anda, boleh gunakan tangan kiri, boleh gunakan tangan kanan. Bebas saja, ikuti pilihan hati Anda, karena itu tangan Anda sendiri he he…</p>
<p><strong>Mengapa harus dengan 2 jari ini?</strong></p>
<p>Nah, kalau ini sungguh saya juga tidak tahu he he, sungguh. Namun, seringkali tiba-tiba ide muncul begitu saja dalam benak saya, saat menghadapi sebuah situasi di lapangan. Mungkin karena niat saya yang kuat untuk membantu, mungkin… Sungguh saya “belum” tahu mengapa sentuhan paling jitu, “harus” dengan jari telunjuk dan jari tengah. Jadi, maaf saya belum punya jawaban yang “ilmiah”, yang menurut saya tidaklah terlalu penting mengapa.</p>
<p><strong>2. Katakan “Maaf”</strong></p>
<p>Bernafaslah lebih perlahan, makin perlahan sampai sangat perlahan, sebelum melakukan tahap ke dua ini. Lalu, lanjutkan dengan mengatakan maaf.</p>
<p>Ya, katakan maaf pada bagian tubuh yang dirasa sakit, yang Anda sentuh dengan jari telunjuk dan jari tengah tadi. Sampaikan dengan sungguh-sungguh. Boleh diucapkan, boleh dalam hati. Jangan keras-keras, nanti disangka “edan” oleh tetangga he he…</p>
<p>Katakan maaf, karena selama ini kita tidak memahami apa maksud pesan yang ingin disampaikan oleh alam bawah sadar kita sendiri, melalui rasa sakit itu. Sehingga pesan itu terabaikan. Sekali lagi katakan maaf dengan sungguh-sungguh. Contoh:</p>
<p>“Maaf ya leher yang sakit, saya mengabaikanmu selama ini”</p>
<p>“Maaf ya pundak yang sakit, saya tidak memahami maksud rasamu selama ini”</p>
<p>“Maaf ya mata yang perih, saya tidak memahami pesanmu selama ini”</p>
<p>“Maaf ya perut, saya salah makan yang tidak sesuai dengan kebutuhanmu hari ini atau selama ini”</p>
<p>“Maaf ya kaki, saya bekerja terlalu keras hari ini”</p>
<p>Boleh gunakan kalimat lain yang bergaya bahasa Anda sendiri, seperti bicara dengan teman saat kecil, seperti bicara dengan seorang sahabat.</p>
<p>Lalu, amati bagian tubuh yang Anda sentuh tersebut, bagaimana rasanya sekarang? Amati dan amati saja. Setelah itu, lanjutkan ke langkah berikutnya…</p>
<p><strong>3. Bertanggung Jawablah</strong></p>
<p>Sambil terus menyentuh bagian tubuh yang sakit, katakan pada bagian yang sakit tersebut bahwa: “Aku bertanggung jawab atas rasa sakit kamu”.</p>
<p>Bukanlah tidak akan ada asap, jika tidak ada api. Bagaimana bisa ada buah, jika kita tidak menanam sebuah bibit. Di dunia ini ada hukum sebab-akibat.  Bertanggungjawablah pada “Sebab”-nya. Mungkin sebuah keputusan yang keliru di masa lalu, mungkin sebuah marah yang belum terselesaikan. Mungkin, sebuah kekecewaan yang tersimpan.</p>
<p>Kuncinya adalah mengambil tanggung jawab dari rasa sakit tersebut. Bahwa kita pernah salah, bahwa kita pernah keliru, bahwa kita pernah kotor di masa lalu…</p>
<p>Lalu, amati bagian tubuh yang Anda sentuh tersebut, bagaimana rasanya sekarang? Amati dan amati saja. Setelah itu, lanjutkan ke langkah berikutnya…</p>
<p><strong>4. Terima atau lepaskan dengan ikhlas</strong></p>
<p>Nah, sekarang ada 2 pilihan. Tanya ke alam bawah sadar Anda apakah sakit ini adalah bagian yang harus diterima, cukup seperti bertanya: “Apakah rasa sakit ini adalah bagian yang harus aku jalani?”. Jika terasa ada jawaban “ya” dari dalam diri Anda, maka:</p>
<p>Tariklah nafas panjang yang dalam, sebagai sarana menerima rasa sakit yang Anda sentuh tadi dengan ikhlaaas… Lakukan beberapa kali sampai benar-benar terasa ikhlas. Tahapan ini dikombinasikan dengan doa-doa yang sesuai dengan iman keyakinan Anda, tentulah sangat membantu.</p>
<p>Pilihan ke 2, bila sakit itu bukanlah milik kita, mungkin dapat “kiriman kado” he he… Ya, sudah lakukan saja:</p>
<p>Buanglah nafas yang panjang, sebagai sarana melepaskan rasa sakit yang Anda sentuh tadi ke alam semesta yang demikian luasnya. Kata alam semesta bisa Anda ganti menjadi: Tuhan, Allah atau sebutan lainnya yang selaras dengan iman keyakinan Anda. Terus lakukan beberapa kali sampai benar-benar terasa ikhlas untuk dilepaskan. Diiringi dengan doa akan makin mantaaap…</p>
<p>Sekarang, amati lagi bagian tubuh yang Anda sentuh tersebut, bagaimana rasanya sekarang? Amati dan amati saja. Setelah itu, lanjutkan ke langkah berikutnya…</p>
<p><strong>5. Berterimakasih</strong></p>
<p>Nah, ini bagian yang terpenting dalam teknik terapi diri ini yaitu berterimakasih pada alam bawah sadar Anda. Ya, berterimakasihlah dengan sangat sungguh-sungguh. Lakukan seperti Anda ngomong: “Terima kasih ya, terima kasih…” pada bagian tubuh yang Anda sentuh tadi. Boleh dilanjutkan dengan berdoa sesuai iman Anda.</p>
<p>Baik juga setelah sesi terapi “Maaf + Ikhlas” ini selesai dilakukan, Anda tidur sejenak, tidurlah jika tubuh Anda ingin Anda tidur. Tidurlah…</p>
<p>Oh ya, jangan lupa untuk melepaskan sentuhan jari Anda dari bagian rasa sakit di tubuh Anda tadi, setelah terapi ini  he he…</p>
<p><strong>Sakit bagian tubuh apa saja yang bisa sembuh dengan teknik terapi ini?</strong></p>
<p>Sungguh sangat banyak cerita tentang keberhasilan ide sederhana ini. Saya agak sungkan untuk membagikannya karena seperti “Kok, bisa ya?”. Biarlah Anda sendiri yang memetik manfaatnya. Rasakan sendiri saja. Buktikan sendiri saja.</p>
<p>Semoga ide terapi “Maaf + Ikhlas” ini dapat melengkapi koleksi terapi diri untuk Anda sendiri, maupun untuk orang lain. Mungkin saja, ide terapi ini belum pas untuk sebuah situasi sakit tertentu, tidak apa-apa juga. Anda bisa kombinasikan dengan ide terapi diri lainnya. Ini hanyalah salah satu ide pelengkap saja. Yang siapa tahu berguna dan berhikmah…</p>
<p><strong>Harapan Akhir Cerita</strong></p>
<p>Karena seringkali saya mendapat ilham dengan tiba-tiba dan gratis dari DIA, maka artiklel inipun bebas untuk di-copy dan disebarluaskan, agar makin banyak orang yang bisa mendapat manfaatnya.</p>
<p>Ya, Allah terima kasih atas begitu banyaknya berkah yang saya terima selama hidup ini, semoga dengan tulisan ini, berkah itu terus tersebarkan…</p>
<p>Jakarta, 4 september 2009</p>
<p><strong>Krishnamurti</strong> – Di atas pesawat Palembang menuju Jakarta, lanjut ke Medan.</p>
<p>Nb:</p>
<p>Teknik ini bisa menjadi salah satu ide terapi yang cepat, untuk membantu saudara-saudara kita korban gempa di Jawa Barat, dalam hal meringankan rasa sakit.</p>
<p>Tentunya, tahapan berikutnya adalah medis. Ini sebagai tahap awal saja. Silakan dikombinasi dengan Joget Sumo, artikel terdahulu.</p>
<p>Jika ada relawan gempa Jawa Barat yang perlu bantuan, masukan atau panduan untuk gunakan terapi ini, silakan hubungi saya di: krishnamurti@indo.net.id</p>
<p> Viewed 5515 times by 1328 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/09/06/tip-praktis-nlp77-maaf-ikhlas-%e2%80%9cterapi-lenyapkan-pening-stres-yang-cespleng%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#76: Joget Sumo “Cara tetap tenaaang saat Gempa! Gempa! Gempa!”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/09/03/tip-praktis-nlp76-joget-sumo-%e2%80%9ccara-tetap-tenaaang-saat-gempa-gempa-gempa%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/09/03/tip-praktis-nlp76-joget-sumo-%e2%80%9ccara-tetap-tenaaang-saat-gempa-gempa-gempa%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 00:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma / Phobia]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Trauma / Phobia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Joget irama gempa Saat banyak orang panik lari tunggang-langgang keluar ruangan, dipanggung Student Center FE-UI Depok, saya malah berwaspada dengan berjoget Sumo perlahan mengikuti irama gerakan gempa, saat terjadi gempa Rabu, 2 September 2009 sekitar jam 15:00 lalu. Hal ini &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/09/03/tip-praktis-nlp76-joget-sumo-%e2%80%9ccara-tetap-tenaaang-saat-gempa-gempa-gempa%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>Joget irama gempa</strong></p>
<p>Saat banyak orang panik lari tunggang-langgang keluar ruangan, dipanggung Student Center FE-UI Depok, saya malah berwaspada dengan berjoget Sumo perlahan mengikuti irama gerakan gempa, saat terjadi gempa Rabu, 2 September 2009 sekitar jam 15:00 lalu.</p>
<p>Hal ini malah membuat peserta yang hadir di acara Seminar UKM-CSR yang diselenggarakan oleh mahasiswa UI, bingung tapi ikutan tenang dan tetap bersiaga, tanpa rasa panik yang berlebihan. Bahkan saya tetap memberikan “ceramah” dalam suasana gempa tersebut. Sebuah pengalaman batin yang luar biasa, paling tidak buat saya pribadi.</p>
<p><strong>Mengapa saya punya ide berjoget Sumo?</strong></p>
<p><span id="more-210"></span>Cerita ini berasal dari sebuah ide terapi saat saya menjadi relawan Tsunami Aceh akhir tahun 2004 lalu. Karena umumnya mereka yang selamat dari Tsunami, mengalami trauma berat. Salah satu tantangannya adalah bagaimana mengatasi trauma pasca gempa, khususnya untuk anak-anak kecil?</p>
<p>Pakai Hypnotherapy, ya nggak mungkin. Wong, pejamkan mata aja membuat anak-anak berteriak panik, karena memori serem ombak menerkam, melintas kembali. Singkat cerita, datanglah teman lama saya si Ilham yang muncul tiba-tiba di benak saya, yakni berupa Game Therapy.</p>
<p>Untuk terapi anak-anak, kuncinya adalah bermain. Ide dasar ini sebenarnya berawal dari DR. John Grinder pencipta New Code NLP yang saya ikuti di Kuala Lumpur, sekitar awal tahun 2005 lalu. Rupanya program ini masih ter-install di otak saya he he… Dan, ternyata lumayan berguna…</p>
<p>Sebelum kita membahas ide “Terapi Joget Sumo”, marilah sedikit kita kupas…</p>
<p><strong>Mengapa kita bisa panik?</strong></p>
<p>Karena di otak kita tidak (baca: belum) punya strategi yang tenang untuk mengatasi situasi yang mengejutkan, selain strategi panik, ngacir dan teriak-teriak. Jika kita memiliki beberapa strategi mengatasi situasi yang mengejutkan, maka kita akan tetap tenang dan tetap siaga.</p>
<p>Saya teringat saat masih bekerja sebagai IT Manager sekitar 10 tahun lalu, saat itu saya berada di lantai 6 di gedung tempat saya bekerja. Karena hampir seluruh lantai adalah milik Konglomerat tempat kami bekerja, jadi umumnya kami saling kenal, paling tidak saling tahu satu sama lain.</p>
<p>Nah, yang membuat saya shok adalah saat terjadi gempa, seluruh teman saya ngacir menyelamatkan diri lewat tangga darurat tanpa memikirkan orang lain. Bahkan, salah seorang pejabat tinggi, tega menginjak bawahannya untuk secepatnya turun tangga. Sungguh mengerikan. Seorang teman yang hamil, bahkan ditinggalkan begitu saja.</p>
<p>Waktu itu, saya memilih untuk mengajak teman-teman kerja saya untuk tenang dan memilih berlindung di samping meja atau lemari yang kuat, karena saya tahu teori bagaimana mengatasi gempa.</p>
<p>Namun, umumnya orang panik luar biasa. Setelah selesai gempa, barulah para “bos” tersebut malu dengan “kelakuannya” tadi. Nginjek temen (baca: bawahan atau anak buah) nih yeee he he…</p>
<p>Teman-teman sekerja saya panik dengan gempa, saya “panik” lihat kelakukan para “Bos” saya ha ha ha…</p>
<p>Nah, bagaimana agar kita tetap tenang saat mengalami gempa? Otak kita perlu di-install program yang merespon tenang dan tetap waspada. Bagaimana caranya? Mudah saja…</p>
<p><strong>Tahap awal: Buang dulu semua trauma terkejut</strong></p>
<p>Ya, program Terapi Joget Sumo hanya bisa aktif dan efektif, bila program yang lama dibuang dulu. Cara yang paling mudah dan sederhana adalah meniupnya jauh-jauh sampai hilang.</p>
<p>Begini urutannya:</p>
<p>1. Pikirkan kembali sebuah pengalaman yang membuat Anda sangat terkejut. Bagaimana respon Anda? Apa yang Anda rasakan? Ada dimana gambarannya di benak Anda? Di depankah, di kirikah, di kanankah, di belakangkah atau dimana?</p>
<p>2. Bersyukurlah bila ketemu he he, karena banyak orang sering bingung dimana dia meletakkan trauma masa lalu dalam hidupnya.</p>
<p>Lalu, tarik nafas yang dalam, tahap selama mungkin dan hembuskan nafas Anda melalui mulut, sekeras-kerasnya untuk mendorong, untuk membuang, untuk menyingkirkan segala gambaran, segala pengalaman trauma terkejut tersebut.</p>
<p>Ulangi, langkah nomor 2 ini, sampai trauma tersebut benar-benar kabur dari benak Anda.</p>
<p>3. Setelah selesai, bernafaslah semakin perlahan dan sangat perlahan…</p>
<p>4. Jika memungkinkan, petiklah hikmah dari kejadian trauma tersebut. Misal: menyebutkan dalam hati: “Allah Maha Besar”</p>
<p>Hanya begini saja caranya? Ya, semudah itu saja. Gak percaya, ya nggak apa-apa ha ha ha… (jadi ingat tawanya Mbah Surip)</p>
<p>Catatan:</p>
<p>1. Bagi Anda yang mau jadi relawan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami trauma akibat gempa, gunakan saja teknik sederhana di atas. Sangat mudah. Kuncinya ada di sikap saja. Akhlak dan niat tulus saja yang menentukan keberhasilan teknik yang sungguh sangat sederhana ini yakni:</p>
<p>“Berikan Hatimu… Maka engkau akan temukan jawabannya disana…”</p>
<p>Demikian teringat pesan Mbah saya, Bapak Uskup Sinaga dari Medan, saat kami jadi relawan Tsunami disana…</p>
<p>2. Usahakan untuk berdoa dulu, minta kuasaNYA, minta ijinNYA, minta restuNYA sebelum melakukan terapi di atas. Bagaimanapun kita hanyalah alatNYA saja… Biarlah kita hanya jadi saranaNYA saja…</p>
<p><strong>Tahapan Install Terapi Joget Sumo</strong></p>
<p>Nah, sekarang mari kita meng-install program “Terapi Joget Sumo”, begini idenya. Tapi sekali lagi, ide ini pas untuk saya dan anak-anak yang pernah kami terapi baik saat Tsunami Aceh ataupun Gempa Jogja, semoga bisa pas juga untuk orang banyak. Semoga aja yaaa…</p>
<ol>
<li>Buat      posisi Anda atau klien Anda, yaitu anak-anak seperti posisi orang mau      beradu Sumo.</li>
<li>Hentakan perlahan kaki kiri, lalu hentakan perlahan kaki kanan. Ulangi hentakan, kaki kiri… hentakan kaki kanan… Kaki kiri… Kaki kanan… terus ulangi dan ulangi, kecepatan hentakan bisa dibuat makin cepat dan makin cepat.</li>
<li>Saat hentakan kaki, kepala boleh ikut bergoyang mengikuti arah langkah. Kaki kiri dihentakan, kepala bergoyang juga ke kiri… Gerakan Sumo ini, boleh dibuat menjadi lucu dan gembira.</li>
<li>Setelah kira-kira Anda atau klien Anda dalam situasi yang asyik, barulah masukan ke dalam benak Anda atau klien Anda, kalimat sugesti berikut: “Gempaaa Bumiii… gempaaa bumiii…”. Ulangi dan ulangi, sampai terasa biasa saja.</li>
<li>Terus lakukan, sampai Anda atau klien Anda yang mengatakannya sendiri kalimat sugesti tadi: “Gempaaa Bumiii… gempaaa bumiii…”</li>
<li>Amati dan amati, baik sekali jika sudah terasa nyaman, kecepatan menyebutkan kalimat sugestinya diucapkan lebih cepat, seperti: “Gempa bumi!!! Gempa bumi!!!”</li>
<li>Menarik dan uniknya, traumapun langsung “plooong” lenyap. Demikian pengalaman saya selama ini dalam menangani saudara-saudara yang mengalami trauma gempa.</li>
</ol>
<p>Pelajari dan kuasai teknik sederhana di atas, sampai menjadi seperti bermain. Dan, bisa Anda gunakan untuk diri saya sendiri, juga untuk membantu orang lain.</p>
<p><strong>Pengalaman Gempa di Apartemen lantai 20</strong></p>
<p>Pernah saat mau tidur di suatu malam, terjadi getaran gempa. Sebenarnya biasa saja, namun karena saya sedang berada di sebuah apartemen lantai 20, ceritanya menjadi lain, tauk! Sereeem juga ha ha ha…</p>
<p>Para penghuni apartemen panik, berteriak, histeris dan berlari turun melalui lantai. Wow, perlu puluhan menit untuk tiba di lantai dasar, bukan? Malah, kalau benar terjadi runtuh, kecil kemungkinan saya bisa “mendarat” dengan selamat di tanah, bukan? Demikian saran benak saya he he…</p>
<p>Lalu, apa yang saya lakukan?</p>
<p>Saya hanya ikut bergoyang mengikuti kemana goyangan gempa saja, sambil tetap berbaring di ranjang. Lalu, saya hanya berdoa pasrah dan pasrah. Jika aku harus kembali kepada Dia yang memiliki nafas ini, biarlah saya kembali dalam keadaan berdoa…</p>
<p>Ah, maaf. Saya hanya berbagi perasaan saja. Nggak usah sedih he he… Ini hanyalah sedikit cerita saja. Entah kenapa, saya teringat pada sebuah syair yang saya tulis saat dalam perjalanan di bus malam dari Pontianak menuju kota Sintang, di pedalaman Kalimantan Barat. Saat itu mungkin sekitar jam 2 atau 3 pagi dini hari.</p>
<p>Syair itu mengajak berandai-andai bagaimana bila terjadi hari terakhir itu? Semoga bisa menjadi obat dari kepanikan diri ini dan juga semoga memotivasi yooo…</p>
<p><strong>Ijinkan aku kembali</strong></p>
<p>Ah, kadang aku suka berandai<br />
Ya, hanyalah berandai-andai saja<br />
Akan kujawab apa saat dipanggil  Nya?</p>
<p>Bolehkah kujawab ijinkan aku kembali<br />
Banyak hal yang belum kuselesaikan<br />
Banyak hal yang masih kusia-siakan<br />
Banyak kelalaian yang belum kubayar</p>
<p>Ijinkan aku kembali<br />
Banyak keliru yang belum kuperbaiki<br />
Banyak kotoran yang belum kubersihkan<br />
Banyak debu yang belum kusapu</p>
<p>Ijinkan aku kembali<br />
Aku malu dengan diriku<br />
Aku lalai dengan misiku</p>
<p>Ijinkan aku kembali<br />
Semoga masih ada waktu kedua<br />
Ya, hanya semoga</p>
<p>Pontianak, 20 Agustus 2009<br />
Krishnamurti – sedang di bus malam menuju Sintang</p>
<p><strong>Harapan cerita</strong></p>
<p>Demikian syair yang saya tulis dengan Black Berry saya malam itu, sebenarnya lebih untuk refleksi diri saya sendiri saja. Karena saya sulit tidur di bus malam saat itu, namun yang terus muncul dalam diri saya adalah reflektif dan reflektif…</p>
<p>Semoga syair ini bisa membangkitkan diri Anda juga, untuk terus berkarya dan berkarya bagi sesama. Berbagi dan berbagi. Berbuat kebenaran dan kebenaran.</p>
<p>Terus menebar energi bersih bagi kehidupan ini. Sehingga saat ada gempa kembali, Anda tenang menghadapinya. Karena sudah siap…</p>
<p>Palembang, 3 September 2009</p>
<p><strong>Krishnamurti</strong> – di pesawat terbang dari Jakarta menuju Palembang.</p>
<p><em><strong>Tambahan sedikit:</strong></em></p>
<ol>
<li>Dengan senang hati, jika menurut Anda artikel ini bisa membantu orang banyak, monggo untuk di-copy paste, di posting di blog Anda, diperbanyak, di-forward atau disebarluaskan. Cukup tuliskan sumbernya saja…</li>
<li>Bila ada pertanyaan, perlu bantuan, perlu penjelasan, perlu pelatihan untuk teknik ini atau hal lainnya, silakan email saya di <a href="mailto:krishnamurti@indo.net.id">krishnamurti@indo.net.id</a></li>
<li>Jika ada saudara, kerabat, teman atau siapapun yang mengalami trauma akibat gempa Jawa Barat kemarin, dan perlu bantuan mendesak untuk dipandu, boleh hubungi langsung ke HP saya di 0816 1815 333 semoga saya bisa membantu. Jika ada korban trauma dalam jumlah besar dan perlu bantuan terapi, dapat diatur berkumpul ke Radio Sonora di Bandung.</li>
</ol>
<p> Viewed 5175 times by 1527 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/09/03/tip-praktis-nlp76-joget-sumo-%e2%80%9ccara-tetap-tenaaang-saat-gempa-gempa-gempa%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#74 Bersyair ”Agar hati terus berbunga-bunga”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/08/30/tip-praktis-nlp74-bersyair-%e2%80%9dagar-hati-terus-berbunga-bunga%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/08/30/tip-praktis-nlp74-bersyair-%e2%80%9dagar-hati-terus-berbunga-bunga%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 00:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Hah, bakat membuat syair? “Bagaimana sih cara Anda membuat syair? Kok, kayaknya mudah aja, padahal Anda kan Motivator. Anda pasti punya jiwa seni ya?”, demikian beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh beberapa pendengar Radio Sonora, beberapa pembaca buku Share The Key, &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/08/30/tip-praktis-nlp74-bersyair-%e2%80%9dagar-hati-terus-berbunga-bunga%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>Hah, bakat membuat syair?</strong></p>
<p><em>“Bagaimana sih cara Anda membuat syair? Kok, kayaknya mudah aja, padahal Anda kan Motivator. Anda pasti punya jiwa seni ya?”,</em> demikian beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh beberapa pendengar Radio Sonora, beberapa pembaca buku Share The Key, juga beberapa anggota milis Bidadari Words.</p>
<p>Cukup susah juga menjawab pertanyaan teman-teman tersebut. Bakatkah? Berjiwa senikah? Hobikah? Saya juga tidak tahu he he… Namun, saya bisa berbagi pengalaman bagaimana proses saya membuat kalimat-kalimat indah <em>(paling tidak menurut saya sih ha ha ha)</em> seperti syair, puisi ataupun pantun. Nah, salah satu strateginya adalah…</p>
<p><span id="more-206"></span><strong>Selesaikan secepat mungkin</strong></p>
<p>Saat sebuah ide muncul dalam benak saya, maka akan saya lakukan sampai selesai. Itu saja tuh resepnya. Jangan ditunda, langsung ketik saja, langsung tulis saja, sampai terasa cukup atau dirasa selesai. Jangan dibaca-baca lagi, nanti malah sibuk merubah, bahkan malah bisa jadi kacau.</p>
<p>Berikut ada sebuah pengalaman bagaimana saya membuat syair, sajak, puisi atau apalah namanya karena saya juga tidak pernah memberikan tulisan ini sebuah nama, walau ada sebuah judul. Strategi lainnya…</p>
<p><strong>Gak usah banyak mikir, jalan-jalan saja</strong></p>
<p>Suatu hari, saya terbangun cukup pagi dari tidur, di sebuah tempat yang sangat sejuk yakni Nongko Jajar, Gunung Bromo, Jawa Timur. Lalu, saya mengikuti hati saya untuk berjalan-jalan menelusuri tempat sekitar dengan membawa kamera digital dan Black Berry Bold agar mudah saya mengetik, jika muncul sebuah ide.</p>
<p>Saya terus berjalan menikmati alam sekitar dan terus saja berjalan dan berjalan, sampai tiba-tiba saya tertegun melihat bunga kembang sepatu merah darah merekah indah, yang besarnya sekitar 1.5 kali dari yang biasa saya lihat selama ini.</p>
<p>Saya hanya mengamati dan menikmati, sungguh sangat indah. Saya mengambil beberapa gambar kembang tersebut dari berbagai posisi. Dan, tiba-tiba…</p>
<p><strong>AHA! Muncul ide</strong></p>
<p>Saya terkagum-kagum akan sebuah bunga kembang sepatu yang benang sarinya menghadap langsung ke sinar matahari pagi yang hangat. Ah, indah sekali. Sungguh sangat indah. Nah, saat perasaan kagum ini muncul, saya buka Black Berry, lalu saya biarkan hati ini menggerakkan jari-jari tangan untuk mengetik-ngetik semaunya saja, berikut ini hasilnya…</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Berguru pada Benang Sari<br />
</strong><br />
Benang sari menyambut terang<br />
Kuning merekah disapa pagi<br />
Seperti sangat gembira, sangat riang<br />
Walau hanya bergoyang pelanIndah yg indah, tak perlu bunyi<br />
Terus bergoyang tanpa suara<br />
Bahagia yang hanya bahagia<br />
Tak perlu pujian seperti manusia</p>
<p>Bahagia ya bahagia saja<br />
Gembira ya gembira saja<br />
Senang ya senang saja<br />
Tidak perlu dimaknai</p>
<p>Sungguh hidup ini sederhana<br />
Belajar dengan benang sari bunga<br />
Yang bersyukur adanya cahaya<br />
Indah terang dari Ilahi</p>
<p>Terkagum Nongko Jajar, Gunung Bromo, 19 Agustus 2009</li>
</ol>
<p>Krishnamurti – Mindset Motivator</p>
<p>Selesai syair yang pertama ini, saya terus membiarkan hati saya menggerakkan kaki untuk melangkah kemana kaki ini ingin melangkah dan bertemulah kami dengan sekumpulan bunga mawar berwarna kuning yang unik. Mengapa unik? Karena mekarnya bisa kompak rame-rame kayak sedang demo he he… Strategi lainnya adalah…</p>
<p><strong>Menikmati… Hanya menikmati…</strong></p>
<p>Saat ketemu sebuah keindahan, jangan biarkan pikiran Anda bekerja. Biarkan perasaan Anda, biarkan hati Anda yang bekerja, biarkan diri Anda menikmati dan menikmati apa yang ada di depan Anda saat itu.</p>
<p>Dari hasil menikmati itu, muncullah kekaguman lainnya yang saya tuangkan sebagai cerita hikmah berikut ini:</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Mawat Empat<br />
</strong><br />
Satu tangkai bermuncul empat<br />
Satu warna berkumpul-kumpul<br />
Layaknya satu keluarga<br />
Ada dewasa, ada si bungsuBersama pula tertawa pagi<br />
Menebarkan kuning guna mewarnai<br />
Kuning yang sudah diberi Dia yang Maha<br />
Tidak memilih, hanya menerima</p>
<p>Memberi indah, itulah misinya<br />
Melengkapi warna, itulah tujuannya<br />
Dinamai kuning, bukanlah keinginannya<br />
Tidak kuning, tidak mawar, hanya makna</p>
<p>Hanya bunga indah milik si Pemcipta<br />
Memberi senyum lembut dari Dia<br />
Agar dunia belajar padanya<br />
Bahwa bahagia ada di dalam bunga</p>
<p>Ada dimana-mana<br />
Sangat dekat<br />
Tidak perlu dicari<br />
Cukup dinikmati<br />
Cukup disyukuri<br />
Cukup disentuh…</p>
<p>Trance bengong di Nongko Jajar, Bromo, 19 Agustus 2009</li>
</ol>
<p>Krishnamurti – Mindset Motivator</p>
<p>Selesailah syair yang kedua dalam waktu yang cukup singkat. Mengapa singkat? Karena nggak mikir hi hi hi… Jadi, hasilnya bisa seperti di atas itu. Coba kalo saat itu saya mikir, mungkin hasilnya jadi skripsi he he… Ada strategi lain yang juga cukup sering saya lakukan, yakni saat hati sedang memetik hikmah, sehingga ada perasaan yang…</p>
<p><strong>Reflektif</strong></p>
<p>Setelah menikmati karya alam semesta dimanapun ditemui, saya sempatkan diri barang sejenak untuk reflektif, menghadap sejenak ke DIA yang Akbar, yang Maha, yang Besar, yang Agung.</p>
<p>Waktu itu, setelah menulis dua buah syair. Saya duduk di rumput kadang saya bersila, kadang saya bersimpuh, sambil menatap sinar matahari pagi yang hangat, di udara pagi Gunung Bromo yang sangat dingin. Saya bertanya kedalam diri, kira-kira apa yang kehendak DIA menghantar saya ke tempat ini? Apa ya? Mungkin ini…</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Sempatkan aku untuk berbagi<br />
</strong><br />
Engkau sungguh Maha Besar<br />
Hanya cahaya hangat yang Kau beri<br />
Di pagi hening sejuk berbunyi jangkrik<br />
Agar aku berdiam sejenak mendengarMuPesan alam pesan yang indah<br />
Perlu hati untuk memahaminya<br />
Mudah sekali, namun sulit<br />
Karena bicara tapi sunyi<br />
Karena warna-warni tapi kuning<br />
Karena sejuk tapi hangat<br />
Karena terang tapi gelap</p>
<p>Berdiam diri itulah pesannya<br />
Agar aku tetap rendahkan hati<br />
Untuk memahami pesanNya<br />
Agar hijau makin hijau</p>
<p>Aku hanya bisa bersyukur<br />
Hanya bersyukur<br />
Aku bisa bicara pada Mu<br />
Berdua bermesaraan bercahaya<br />
Tertawa dan tersenyum<br />
Sungguh Engkau Maha Akbar</p>
<p>Ijinkan aku, anakmu ini<br />
Melayani lebih luas lagi<br />
Berbagi lebih banyak lagi<br />
Melangkah lebih jauh lagi</p>
<p>Sempatkan aku untuk terus berbagi</p>
<p>Terima kasih Bundaku…<br />
Doaku Kau sampaikan…</p>
<p>Bersimpuh menatap cahaya pagi di Nongko Jajar, Bromo, 19 Agustus 2009</li>
</ol>
<p>Krishnamurti – Mindset Motivator</p>
<p>Ya, begitulah proses pembuatan syair yang ketiga ini, cukup unik namun mudah, kan? Selanjutnya, saya selesai jemur pagi. Saya mandi dan sepertinya di dalam hati masih ada sesuatu yang belum terselesaikan. Apa ya? Kok, tubuh ini masih kedinginan. Karena memang suhu di Nongko Jajar sangat dingin. Aha, suhu yang sangat dingin ini memberikan ide, makna kedinginan dalam arti yang berbeda. Dan, jreeeng inilah syair berikutnya, syair ke empat dan syair terakhir…</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Kunci sukses<br />
</strong><br />
Tuhanlah pemilik kunci sukses kita<br />
Namun, tidak disimpan di Surga<br />
Kunci itu diletakkan dalam hati kita<br />
Di tempat yg terdekat dgn diri iniSungguh sangat dekat<br />
Hanya satu tarikan nafas<br />
Hanya satu pejaman mata<br />
Hanya satu kalimat doa</p>
<p>Selama di Bumi, mengapa mencarinya ke Surga?<br />
Selesaikan pekerjaan bumi di bumi</p>
<p>Berhentilah melangkah sejenak<br />
Berdiam diri mengetuk pintu hati<br />
Masuklah ke dalam sanubari<br />
Carilah kata misi hati<br />
Disitulah terpahat kata<br />
Untuk apa aku ada di bumi</p>
<p>Bermainlah sejenak dg diri Anda<br />
Menumlah anggur bersama Jiwa Anda<br />
Tertawalah dengan sang batin<br />
Berkenalanlah lebih dekat</p>
<p>Berpelukanlah…<br />
Berdekapanlah…<br />
Menyatulah…</p>
<p>Agar aku menjadi aku</p>
<p>Kedinginan di Nongko Jajar, Bromo, 19 Agustus 2009</li>
</ol>
<p>Krishnamurti – Mindset Motivator</p>
<p>Demikian, sobat pembaca tentang kisah sepotong bagaimana saya membuat syair. Ada yang bilang Motivator juga manusia, makanya bisa romantis he he… Banyak kejadian lain yang prosesnya bisa berbeda, namun strateginya agak mirip-mirip. Semoga saja ide strategi ini dapat menjadi inspirasi Anda dalam membuat syair.</p>
<p>Karena menurut saya, bersyair dapat melatih hati untuk berkata-kata.</p>
<p>Sehingga hati bisa bicara.</p>
<p>Hati bisa ngomong.</p>
<p>Hati bisa dipahami.</p>
<p>Hati bisa dijelaskan.</p>
<p>Dan, saat hati berkata-kata, semua menjadi indah.</p>
<p>Kehidupanpun menjadi hidup.</p>
<p>Nongko Jajar, Gunung Bromo, 19 Agustus 2009</p>
<p><strong>Krishnamurti </strong>yang berjanji kembali ke Gunung Bromo untuk <em>motret</em> terbitnya matahari dan menyeruput kopi kampung pahit panas…</p>
<p>Yang mau ikutan, monggo email ke: <a href="mailto:krishnamurti@indo.net.id">krishnamurti@indo.net.id</a> kita berangkat dari Jakarta langsung ke Malang, naik mobil dari Bandara langsung ke Nongko Jajar, bermalam disana, jam 4 pagi naik ke Gunung Bromo. Jangan lupa bawa kamera yooo…</p>
<p> Viewed 3583 times by 1164 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/08/30/tip-praktis-nlp74-bersyair-%e2%80%9dagar-hati-terus-berbunga-bunga%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#73: Ikhlas “Energi yang bisa merubah kehidupan”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/08/26/tip-praktis-nlp73-ikhlas-%e2%80%9cenergi-yang-bisa-merubah-kehidupan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/08/26/tip-praktis-nlp73-ikhlas-%e2%80%9cenergi-yang-bisa-merubah-kehidupan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Getaran Ikhlas ternyata bisa dirasakan… “Selamat Pagi Mas Krishna, terima kasih Mas Krishna, walaupun Mas Krishna agak lelah namun tetap menyempatkan diri untuk memandu Terapi Musik di Sonora. Ini sangat membantu saya mengatasi keinginan bunuh diri yang setiap saat muncul, &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/08/26/tip-praktis-nlp73-ikhlas-%e2%80%9cenergi-yang-bisa-merubah-kehidupan%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>Getaran Ikhlas <em>ternyata</em> bisa dirasakan…</strong></p>
<p><em>“Selamat Pagi Mas Krishna, terima kasih Mas Krishna, walaupun Mas Krishna agak lelah namun tetap menyempatkan diri untuk memandu Terapi Musik di Sonora. Ini sangat membantu saya mengatasi <strong>keinginan bunuh diri</strong> yang setiap saat muncul, walaupun saya sadar itu dosa. Namun sulit untuk mengendalikannya. Sekali lagi terima kasih, doaku selalu menyertai langkah Mas Krishna – Devi, Jakarta” 8-June-2009 00:40:58</em></p>
<p><span id="more-204"></span>Sungguh saya tidak tahu apa yang menyebabkan Devi, salah satu pendengar setia Radio Sonora Jakarta, mengirimkan SMS ini langsung ke HP saya. Mungkin juga karena malam sebelumnya saat siaran acara Terapi Musik di Radio Sonora Jakarta jam 22:00-24:00, saya sempat sekilas menyampaikan bahwa memang saya sedang lelah karena kegiatan pelatihan yang sangat padat selama seminggu itu, namun mengingat banyak orang yang ingin <em>curhat, sharing</em> masalah kehidupan pribadi, konsultasi, ngobrol ataupun menunggu panduan aktif untuk relaksasi dan terapi, maka saya putuskan untuk tetap ikhlas melayani para sahabat pendengar Radio Sonora dimanapun berada pada malam Senin itu.</p>
<p>Mungkin? Ya, mungkin saja getaran semangat ikhlas melayani inilah yang mungkin dirasakan oleh Devi, mungkin saja…. Saya juga tidak terlalu tahu. Niat saya hanya ingin terus melayani saja… Walau jujur, saat itu saya sedang lelah secara fisik. Namun, karena sejak awal acara tersebut diluncurkan dengan…</p>
<p><strong>Misi Melayani Pendengar</strong></p>
<p>Sungguh tidak terasa, bahwa terhitung Agustus 2008, sudah setahun sudah saya memandu acara Terapi Musik di Radio Sonora Jakarta yang memang sejak awal bertujuan untuk berbagi. Maka sejak awal, sampai saat ini dan seterusnya (jika DIA masih memberikan nafas he he he) saya akan terus sempatkan melayani para pendengar radio Sonora.</p>
<p>Banyak orang bertanya mengapa saya mau mengisi acara Terapi Musik di Radio Sonora sampai tengah malam, walau tidak mendapat bayaran? Jika ditanya demikian, saya akan balik bertanya: <em>“Mengapa harus minta bayaran? Ha ha ha ha…”</em> (tertawa lepas khas Mbah Surip). Banyak orang belum mengetahui rahasia menjadi pribadi kreatif adalah justru dengan berbagi dengan ikhlas. Ya, karena dengan…</p>
<p><strong>Ikhlas Memberi, kita Menerima</strong></p>
<p>Apakah pasti kita akan menerima saat berbagi dengan ikhlas? Sederhana aja, karena ada yang jadi output, maka akan datang input. Pertanyaan di atas, saya lanjutkan dengan pertanyaan yang bersifat pernyataan: <em>“Bukankah saya yang lebih banyak mendapat manfaat dari pelayanan tersebut?”.</em> Nah, lho makin bingung, kan?</p>
<p>He he he… Sungguh, sayalah yang paling banyak mendapat manfaat dari acara Terapi Musik di Radio Sonora tersebut, sejak saya melayani para pendengar di acara ini, ada saja ide-ide baru muncul saat sesi melakukan terapi. Baik yang muncul tiba-tiba ataupun mendapat ide dari berbagai guru di Nusantara yang saya temui, khususnya Bapak Tjokorda Gde Rai dari Karang Asem, Ubud, Bali. Beliau sangat banyak memberikan ide-ide terapi yang menurut saya sangatlah luar biasa. Wajar para pembelajar NLP dari seluruh dunia terus mengunjungi beliau untuk berguru, modelling atau kegiatan lainnya, seperti minta diterapi.</p>
<p><strong>Lelahkah?</strong></p>
<p>Pertanyaan lain yang sangat sering muncul: <em>“Emangnya bapak gak lelah ngisi acara radio sampai tengah malam?”</em>. Ya, pastilah. Apalagi selesai siaran tengah malam, kadang saya sempatkan evaluasi sejenak dengan teman-teman di studio, lalu kembali ke hotel yang disiapkan oleh Radio Sonora, mandi air panas sejenak, barulah bersiap tidur sekitar jam 01:00 atau 01:30 dini hari.</p>
<p>Dan, bangun jam 5:30an pagi untuk kembali ke Radio Sonora menemani para pendengar Radio Sonora khusus Ibukota Jakarta yang sedang bermacet-ria di jalanan dengan tema “Motivasi Pagi”. Harapan kami dengan acara ini, berbagi semangat, berbagi energi positip, berbagi senyum dan berbagi hal lainnya, agar para pendengar “hatinya” bisa adem saat tiba di kantornya masing-masing.</p>
<p><strong>Lho, lalu apa manfaat dari sebuah kelelahan?</strong></p>
<p>Ya, saya belajar mengatasi diri agar tidak lelah. Saya belajar agar tetap fit, tetap sehat, tetap semangat walau sudah tengah malam. Saya terus menerapkan apa yang telah saya pelajari dari berbagai guru saya, seperti Eyang Bandler, Engkong Grinder, Bapak Tjokorda, Ustadz Aceng, Banthe Subbho, Bapak Haji Izaidin, Romo Somar, Bu Ijo dan lainnya.</p>
<p>Artinya kelelahan dalam melayani ini, menjadi peluang bagi saya untuk terus mengembangkan potensi diri agar menjadi lebih optimal, lebih efektif, lebih produktif dan lebih mendekatkan diri pada DIA yang Maha. Agar niat ini tetap luruuuus…</p>
<p>Ah, sungguh berkat dan rochmad yang luar biasa. Dengan kegiatan melayani di Radio Sonora, saya malahan terus mendapat teknik-teknik, cara, metode baru untuk olah diri, olah tubuh, olah pikiran dan olah perasaan yang saya yakini datangnya dari DIA. Dan, saya yakini agar saya bisa terus sehat, DIA mengirimkan saya ahli gizi makanan. Saya mendapat kiriman Guru yang ahli dalam teknik olah nafas. Saya dikirimi Dokter Ahli Terapi Ozon. Saya dikirimi Shinshe Hendra yang luar biasa untuk membuat tubuh saya tetap sehat. Saya dikirimi tukang pijat syaraf yang hebat <em>buangeeet</em>. Sekali pijat, saya langsung <em>jreeeng</em>. Dan, hal lain yang menurut saya sungguhlah berkah yang luar biasa adalah terusnya muncul…</p>
<p><strong>Ide kreatif cemerlang</strong></p>
<p>Ada saja ide baru, ide kreatif, ide solusi atau ide-ide lainnya, yang tidak pernah ada habisnya muncul di benak saya. Seperi harta karun yang berlimpah, yang sungguh tiada tara. Saya sulit untuk menceritakannya, hanya bisa Anda syukuri dan rasakan, saat Anda terus ikhlas berbagi untuk kehidupan ini…</p>
<p>Ide kreatif cemerlang ini terus muncul begitu saja dan membuat banyak klien, baik dari perusahaan maupun perorangan menawarkan pekerjaan. Bisnis pelatihan saya berjalan dengan sendirinya tanpa promosi atau iklan. Saya terus diundang untuk bertemu, diskusi, personal coaching atau personal terapi, baik dari Pemilik perusahaan, CEO, Pejabat, Artis, Group Band dan dari berbagai kalangan lainnya, termasuk teman-teman saya para tukang becak, pemulung, anak-anak jalanan he he he…</p>
<p><strong>Akhir kata</strong></p>
<p>Karena banyak pekerjaan, akhirnya artikel ini harus berakhir dengan kata ahir he he… Melalui artikel ini:</p>
<ol>
<li>Saya ingin membangunkan kembali keyakinan Anda agar teruslah berbagi dan berbagi untuk kehidupan ini, agar kehidupan ini menjadi lebih baik. Memang tantangannya besar, namun buahnya juga sangatlah maniiis…</li>
<li>Saya ingin berbagi keyakinan bahwa melayani dengan ikhlas, berbagi dengan ikhlas, sungguh akan berbuah yang luar biasa. Inilah (menurut saya) salah satu kunci sukses yang pasti.</li>
</ol>
<p>Dengan terus menabur benih kebaikan, benih kebenaran, benih buah yang manis, itu saja belum tentu semua benih akan tumbuh. Kadang tanahnya gersang, kadang tanahnya kurang air, kadang tanahnya kurang subur. Namun dengan terus menabur dan menabur, maka pasti ada bibit buah yang tumbuh. Yakinlah…</p>
<p>Yakinlah pasti ada panenan…</p>
<p>Saudaraku, teruslah fokus menabur benih, bukan sibuk memetik hasil panenan atau malahan mengambil panenan orang lain yang bukan menjadi hak kita.</p>
<p>Jadilah pemberi energi.</p>
<p>Be an ENERGY GIVER bukan energy sucker…</p>
<p><strong>Krishnamurti</strong> – Mindset Motivator <em>(katanya sih ha ha ha ha versi Mbah Surip)</em></p>
<p><em>NB: </em></p>
<p><em>Artikel ini saya buat, dalam rangka memperingati setahun sudah acara Terapi Musik di Radio Sonora yang on-air mulai 17 Agustus 2008 lalu, pada setiap hari Minggu jam 22:00-24:00</em></p>
<p> Viewed 13226 times by 1828 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/08/26/tip-praktis-nlp73-ikhlas-%e2%80%9cenergi-yang-bisa-merubah-kehidupan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>752</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#72: Tengak-tengok “Asah kampak agar tetap tajaaam”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/08/07/tip-praktis-nlp72-tengak-tengok-%e2%80%9casah-kampak-agar-tetap-tajaaam%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/08/07/tip-praktis-nlp72-tengak-tengok-%e2%80%9casah-kampak-agar-tetap-tajaaam%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 00:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Mbok, asah dulu kampakmu… “Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya malu. Saya sudah bekerja sangat keras. Saya sudah lembur. Saya sudah mati-matian. Namun hasilnya bukan membaik, malah terus menurun. Saya malu… pak!”, demikian ucapan tertunduk seorang penebang pohon kepada pimpinan &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/08/07/tip-praktis-nlp72-tengak-tengok-%e2%80%9casah-kampak-agar-tetap-tajaaam%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>Mbok, asah dulu kampakmu…</strong></p>
<p><em>“Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya malu. Saya sudah bekerja sangat keras. Saya sudah lembur. Saya sudah mati-matian. Namun hasilnya bukan membaik, malah terus menurun. Saya malu… pak!”</em>, demikian ucapan tertunduk seorang penebang pohon kepada pimpinan yang bijaksana.</p>
<p>Suasana makin hening, karena bukan jawaban kalimat yang terdengar namun malahan bunyi “<em>sruuut”</em> seruput teh panas dihirup nikmat, yang dilanjutkan kelegaan: “Aaah…” yang membuat si penebang pohon makin tertunduk malu…</p>
<p>Sang pimpinan berdiri perlahan dan dengan tangan kanan yang lembut menepuk bahu kiri si penebang pohon, membuat suasana makin hening dan <em>trance</em> tegang. Mata penebang pohonpun berkedip-kedip makin <em>trance</em> bingung menunggu bunyi kalimat jawaban pimpinannya. Namun, tetap <em>trance</em> heniiing…</p>
<p><span id="more-202"></span>Akhirnya suasana senyap <em>terinterupsi</em> dengan kalimat lembut: <em>“Kapan terakhir kali kamu mengasah kampakmu?”</em></p>
<p>Dengan tergagap penebang pohon menjawab terputus-putus: <em>“Man… mana… sempat, pak! Saya bekerja siang malam agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Man.. mana ada waktu untuk mengasah kam… kampakku itu”</em></p>
<p>Eh, malah terdengar suara tertawa bijaksana khas Mbah Surip: <em>“Ha ha ha ha… itulah masalahnya. Kamu lupa mengasah kampakmu. Mana bisa kamu menebang pohon lebih banyak dengan kampak yang tumpul, bukan?”. </em>Bunyi tawapun terulang lagi:<em> “Ha ha ha ha…”</em></p>
<p>Hai sobatku, hai saudaraku, hai temanku… Kadang sepertinya kita tidak punya waktu untuk diri sendiri. Kita tidak sempat untuk sediakan waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Kita tidak mau buang waktu untuk diam. Kita sibuk diluar diri, takut masuk kedalam diri. Karena takut saja…</p>
<p>Nah, marilah. Sekali lagi, marilah ambil jedah sejenak untuk evaluasi perjalanan kita saat ini, sekarang biarkan kepala Anda dalam posisi…</p>
<p><strong>Tengok ke Bawah</strong></p>
<p><em>(Bacalah kalimat berikut di bawah ini dengan sangat perlahan, sangat sangat perlahan)</em></p>
<p>Kapan terakhir kali Anda mengasah kampak Anda?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda tertawa lepas terbahak-bahak?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda retret dari kesibukan sehari-hari?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda berdiam diri, hanya bicara dengan diri Anda sendiri?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi perjalanan hidup Anda?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda bertekuk sujud dan menangis di kaki DIA?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda masuk ke dalam diri Anda yang paling dalam?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda bertanya siapa aku ini?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda bertanya ada dimana aku saat ini?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda bertanya mau kemana hidupku ini?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda dimana akhir cerita hidup ini?</p>
<p><em>(Sekarang baik juga putarlah sebuah musik lembut dan dengarkan dengan hati, nikmati dengan jiwa, menyatulah dengan musik yang Anda pilih, tanpa harus menjawab pertanyaan di atas. Biarkan larut dengan musik)</em></p>
<p>Selesai mengevaluasi dimana perjalanan kita saat ini, barulah berikutnya kita menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan..</p>
<p><strong>Tengok ke Atas</strong></p>
<p>Melihat tujuan Anda di depan. Melihat cita-cita yang akan diwujudkan. Melihat tanah tujuan, tanah harapan. Melihat impian di ujung jalan. Melihat cahaya terang nun jauh disana.</p>
<p>Agar terbangun kembali semangat, motivasi, tenaga, harapan dan keyakinan bahwa cita-cita masih bisa diwujudkan. Harapan itu masih bisa terlaksana. Harapan itu masih ada.</p>
<p>Tidak apa-apa juga untuk melihat lebih tinggi, melihat lebih jauh, menerawang kejauhan diluar batas ambang visual manusia. Melihat akhir cerita kehidupan. Melihat kabar akhir diri ini. Menuju ke alam semesta yang lebih luas. Menuju ke langit. Langit yang berlapis. Bahkan berlapis sampai tujuh lapis.  Sangat tinggi, sangat jauh. Tidak terlihat, tidak terjangkau, hanya diyakini…</p>
<p>Agar saat mata kembali menengok ke bawah, kita mudah untuk memahami bahwa jalan yang sedang diinjak mungkin sudah tepat, mungkin juga salah, mungkin juga keliru, mungkin berlumpur, mungkin hanya kubangan kerbau.</p>
<p>Saat tahu salah, kita mudah untuk berpindah jalan, kita mudah untuk melangkah bangkit. Kita mudah untuk memilah arah dan melanjutkan perjalanan kembali. Sebagai seorang Khalifah. Sebagai seorang Musafir. Sebagai seorang pengelana. Pengelana kehidupan… Dan,</p>
<p><strong>Teruslah sempatkan tengak-tengok </strong></p>
<p>Agar tidak tersesat, agar mudah berpindah arah, agar tetap bersemangat. Teruslah tengak-tengok, walau hanya sejedah tarik nafas, seteguk kopi pahit, sehirup teh panas, seucap Allah Maha Akbar dan menghembuskan nafas dengan syukur dan kembali ikhlas untuk melangkah, melanjutkan perjalanan ini, ke jalan setapak di depan mata. Jalan lurus, jalan panjang, jalan yang mungkin tanpa ujung, jalan kembali. Kembali ke pemilik nafas ini. DIA yang Besar, DIA yang Akbar…</p>
<p>Ah, serahkan saja jawabannya ke dalam diri.</p>
<p>Serahkan saja nafas ini pada Dia pemilik senyum ini.</p>
<p>Serahkan saja nafas ini. Serahkan saja…</p>
<p>Agar kita terus berkarya</p>
<p>Agar kita terus kuat melangkah</p>
<p>Agar kita terus mampu mendaki</p>
<p>Agar kita terus bisa terbang tinggi dan jauh, setinggi dan sejauh yang bisa kita yakini…</p>
<p><strong><em>God, I love you full…</em></strong></p>
<p>Tabik sujudku <strong>Krishnamurti </strong>yang masih terus bertanya kemana akhir hidup ini…</p>
<p><em>(ditulis untuk mengenang Mbah Surip yang “Tak Gendong” Burung Merak WS Rendra untuk terbang bareng kembali ke sarang milik-NYA… Jakarta, 7 Agustus 2009)</em></p>
<p> Viewed 11244 times by 1219 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/08/07/tip-praktis-nlp72-tengak-tengok-%e2%80%9casah-kampak-agar-tetap-tajaaam%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>275</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis NLP#71 : Hari Terakhir “Pertanyaan Membangkitkan Jiwa”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/07/24/tip-praktis-nlp71-hari-terakhir-%e2%80%9cpertanyaan-membangkitkan-jiwa%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/07/24/tip-praktis-nlp71-hari-terakhir-%e2%80%9cpertanyaan-membangkitkan-jiwa%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 00:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[“Saya jomblo, jobless &#38; merasa pesimis meraih cita2 karena hidup saya penuh dengan keterbatasan” Demikian SMS dari Si, Tangerang. Lainnya dari Gun, Jakarta: “Saya merasa galau dgn masa depan saya” Wa, Cilacap: “Mas,kenapa saya sangat takut menghadapi kenyataan yang saya &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/07/24/tip-praktis-nlp71-hari-terakhir-%e2%80%9cpertanyaan-membangkitkan-jiwa%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>“Saya jomblo, jobless &amp; merasa pesimis meraih cita2 karena hidup saya penuh dengan keterbatasan”</strong></p>
<p>Demikian SMS dari Si, Tangerang. Lainnya dari Gun, Jakarta: <strong>“Saya merasa galau dgn masa depan saya”</strong></p>
<p>Wa, Cilacap: <strong>“Mas,kenapa saya sangat takut menghadapi kenyataan yang saya alami..?”</strong></p>
<p>Di, Yogya: <strong>“Saya kok masih sulit ya melupakan kata2 orang yang telah menyakiti hati saya.. Masih terngiang-ngiang ditelinga..”</strong></p>
<p>Ne, Bandung: <strong>“Mas  Sudah 1 tahun ini saya mengalami kekecewaan, 6 bln terahir saya sangat tertekan dgn keadaanku, hidupku terasa hampa. Saya ingin bangkit dr semua ini”</strong></p>
<p><span id="more-198"></span>Demikian sebagian SMS dari puluhan SMS, yang masuk ke redaksi Radio Sonora, pada sebuah acara Terapi Musik yang saya pandu setiap Minggu malam jam 22:00-24:00. Kebetulan malam itu, saya membebaskan para pendengar untuk mengirimkan keluhan atau masalah apa saja yang ingin disampaikan.</p>
<p>Saya ingin mengajak para pendengar untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, mereka hanya sedang keluar fokus dari tujuan utama dalam hidup ini saja. Makanya, saya mengajak para pendengar untuk…</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kembali Fokus pada tujuan hidup di dunia ini</strong></p>
<p>Jika kita fokus pada masalah, maka hidup kita akan menghasilkan masalah. Jika kita fokus pada kesedihan, maka energi kesedihan akan terus membesar dalam diri kita. Salah satu pembimbing saya, Bapak Col. Haji Izaidin dari ABC Malaysia selalu menasehati saya dengan kalimat demikian:</p>
<p><strong>Anything you give energy to, will grow…</strong></p>
<p>Nah, jika kita fokus pada tujuan hidup, maka masalah hiduppun akan menjadi kecil. Atau, mungkin kita abaikan saja karena ada tugas yang lebih besar menanti diri kita. Mungkin Anda pernah bertanya ke dalam diri dengan kalimat reflektif berikut ini:</p>
<p><strong>“Bila hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini, </strong></p>
<p><strong> sebagai apa aku ingin dikenang dalam hidup ini?”</strong></p>
<p>Pertanyaan yang sama pula, yang saya tanyakan kepada seluruh peserta pelatihan Quantum TranceFormation pada malam ke 3 dengan cara silentium (tapa bicara) sampai esok pagi. Lucunya, dipagi hari banyak peserta senyum-senyum sendiri, wajah berseri-seri, tertawa lepas dan sangat rileks. Seperti ada sesuatu yang terlepas dalam diri ini, tapi tidak tahu apa yang terlepas he he… Ya, memang Alam Bawah Sadar Manusia…</p>
<p><strong>Bekerja dengan cara yang unik</strong></p>
<p>Kita tidaklah terlalu perlu memahami cara kerjanya, karena memang luar biasa mengagumkan. Yang perlu kita kuasai adalah cara berkomunikasi yang terbaik dengan Alam Bawah sadar anda sendiri, seperti memberikan pertanyaan yang pas untuk diri kita sendiri, lalu merasakan hasilnya yang luar biasa dalam diri kita. Ya, sungguh mengagumkan hasilnya.</p>
<p>Nah, berikut ini adalah salah satu ide yang saya sudah lakukan sendiri selama bertahun-tahun, yakni hanya dengan teknik sederhana yaitu…</p>
<p><strong>Kalimat pertanyaan refleksi diri</strong></p>
<p>Sebuah kalimat yang bisa menimbulkan SEMANGAT yang besar, energi yang BOOM, suara yang menggelegar, tenaga yang tiada habisnya untuk terus berkarya, berbagi, bergerak, berjalan, berlari bahkan terbang kemanapun yang saya inginkan. Semoga bisa pas juga untuk Anda…</p>
<p>Ide ini sangatlah sederhana, bahkan sangatlah mudah. Namun, perlu waktu untuk mendengarkan jawabannya, perlu keheningan untuk memahaminya, perlu kepekaan untuk menangkapnya. Ide ini adalah bertanya ke dalam diri dengan pertanyaan yang juga sangatlah sederhana, yakni:</p>
<p><strong>“Bila hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini, </strong></p>
<p><strong> sebagai apa aku ingin dikenang dalam hidup ini?”</strong></p>
<p>Atau pertanyaan temannya boleh juga demikian:</p>
<p><strong>“Bila hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini, </strong></p>
<p><strong> Apakah aku sudah melakukan yang terbaik dalam hidup ini?”</strong></p>
<p>Artinya, Anda boleh bertanya dengan pertanyaan lainnya sesuai keperluan Anda sendiri. Amati hasilnya, bisa lompatan, bisa konflik, bisa bingung, bisa makin hebaaaat… Sekarang Anda mungkin bertanya, pertanyaan itu kan biasa saja, lalu…</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lalu, apanya yang berbeda?</strong></p>
<p>Nah, yang ingin saya bagikan adalah teknik bertanyanya yang berbeda, yakni demikian:</p>
<p>Coba rasakan sendiri “akibat” dari pertanyaan yang sederhana ini, dengan cara yang sedikit berbeda…</p>
<p>1. Siapkan diri Anda setenang mungkin, sehening mungkin, sediam mungkin, sesunyi mungkin. Boleh dengan cara apapun, yang penting pas untuk situasi Anda, seusai dengan diri Anda, sehingga mudah melakukannya… Misalnya:</p>
<p>a. Anda       tidur dulu, lalu bangun pada tengah malam. Hati-hati kebablasan “ngorok”-nya       he he…</p>
<p>b. Duduk       berdiam diri, memandang cahaya bulan, melihat cahaya lilin yang       diletakkan di depan Anda.</p>
<p>c. Menikmati       musik, mendengarkan bunyi-bunyian tertentu.</p>
<p>2. Setelah suasana hening tercipta, barulah Anda mulai ke tahap selanjutnya, yakni mengatakan kalimat berikut ini dengan bersuara.</p>
<p><strong>“Bila hari ini adalah hari terakhirku di dunia ini, </strong></p>
<p><strong>sebagai apa aku ingin dikenang dalam hidup ini?”</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dibunyikan… dengan lambat, sekitar 1/3 dari kecepatan bicara normal Anda, dengan bunyi yang perlahan saja, boleh hampir nyaris terdengar. Baik juga, kegiatan ini di rekam, agar mudah untuk dievaluasi dan diputar ulang saat mau tidur, di kemudian hari.</p>
<p>Jumlah pengucapan kalimat pengulangan tersebut, boleh diatur sesuai kebutuhan Anda, boleh 1.000 kali, boleh 100 kali, boleh 50 kali, boleh 30 kali, namun tidak boleh 10 kali ha ha ha… diskon melulu, kayak beli baju aja…</p>
<p>3. Anda boleh menekan diri Anda dengan pernyataan negative lanjutan, misalnya (juga dibaca dengan sangat perlahan dan lambat):</p>
<p>-         Apakah aku ingin dikenang sebagai orang yang gagal?</p>
<p>-         Apakah aku ingin dikenang sebagai seorang pecundang?</p>
<p>-         Apakah aku ingin dikenang sebagai orang yang menyusahkan orang lain?</p>
<p>-         Apakah aku ingin dikenang sebagai mengesalkan orang banyak?</p>
<p>-         Apakah aku ingin dikenang sebagai sampah masyarakat?</p>
<p>-         (boleh tambahkan contoh negative lainnya…)</p>
<p>-         Jika bukan, lalu sebagai apa aku ingin dikenang dalam hidup ini? (lalu, biarkan Alam Bawah Sadar Anda yang menjawabnya…)</p>
<p>4. Terus lakukan kapanpun Anda membutuhkan. Baik juga dilakukan malam hari, sampai Anda tertidur nyenyaaak…</p>
<p>Nah, bagaimana menguji “program instalasi” kalimat tersebut sudah masuk dalam pikiran Anda?</p>
<p><strong> Semoga (ya semoga) ada rasa yang muncul dan terbangkitkan dalam diri Anda…</strong></p>
<p>Saat teknik ini dipandu di Radio Sonora malam itu, sekitar 2 sampai 3 kali, demikian respon beberapa pendengar:</p>
<p>Cing, Angke: <strong>“Saya jadi bisa menerima diri sendiri apa adanya dan berdamai, memaafkan diri saya atas perceraian yg terjadi dan bisa buat saya kembali menata masa depan..thx u”</strong></p>
<p>Djoko Sunter: <strong>“Aku malah merasa sedih karena aku belum dapat memberikan kebahagiaan kepada orang tuaku, sebelum aku meninggalkan dunia ini”</strong></p>
<p>Si, Tangerang: <strong>“Saya sedikit merasa optimis. Meskipun cuma sedikit, tapi sangat berarti. Semoga aq bisa menjalani hidup lebih baik.”</strong></p>
<p>Al, Wangon: <strong>“Andai aku dah gak ada, aku ingin jadi org yang bisa di kenang sebagai orang yang berharga buat keluarga,dan aku tak menyesal bilang jadi saat terakhirku, karena aku dah mengabdikan diriku kpd Tuhan”</strong></p>
<p>Ya, Palembang: <strong>“Jika hidup aku berakhir hari ini, aku ingin dikenang sebagai orang yang suka menolong sesama”</strong></p>
<p>Ibu Ti, Magelang: <strong>“Jika hari ini adalah hari terakhirku, aku ingin dikenang sebagai seorang ibu biasa yang dengan cintanya mengantar anak2 menjadi orang-orang luar biasa dalam hidupku”</strong></p>
<p>Saya bersyukur SMS setelah panduan latihan ini di Radio Sonora malam itu, berakhir dengan pernyataan positip yang lebih besar jumlahnya dibanding SMS keluhan yang masuk di awal acara Terapi Musik tersebut.</p>
<p>Dan, yakinlah semakin sering Anda lakukan teknik di atas, semakin dahsyat dampaknya dalam diri Anda. Seperti ada energi besar muncul dari dalam diri, yang tidak bisa dihentikan. Ini pengalaman pribadi saya sendiri, semoga juga demikian dampaknya untuk Anda.</p>
<p>Ada sebuah SMS yang sangat memotivasi dan menjadi inspirasi orang banyak, yang dikirimkan oleh:</p>
<p>Ari, Jakarta: <strong>“Saya adalah pasien cuci darah, saya harus bertahan hidup dengan sebuah mesin cuci darah, buat saya setiap hari mungkin adalah hari terakhir saya hidup, pesan saya buat setiap kita yang masih bisa melakukan sesuatu untuk orang lain, berikanlah hal terbaik yang bisa anda berikan..”</strong></p>
<p>Thanks Ari, saya kagum dengan Anda!</p>
<p>Jika kita fokus pada masalah, maka hidup kita akan menghasilkan masalah. Yang mana yang selalu Anda fokuskan dalam diri Anda?</p>
<p><strong>Krishnamurti</strong></p>
<p> Viewed 2278 times by 629 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/07/24/tip-praktis-nlp71-hari-terakhir-%e2%80%9cpertanyaan-membangkitkan-jiwa%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tip Praktis#70: Laser Matahari “Membakar Kegelapan Trauma”</title>
		<link>http://mindsetmotivator.com/2009/06/02/tip-praktis70-laser-matahari-%e2%80%9cmembakar-kegelapan-trauma%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mindsetmotivator.com/2009/06/02/tip-praktis70-laser-matahari-%e2%80%9cmembakar-kegelapan-trauma%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mindset motivator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[NLP dan Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mindsetmotivator.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[“Seluruh badan keringatan, himpitan batin kini mulai ringan. Rasa benci dan dendam mulai memudar. Hati dan pikiran jadi longgar” Demikian SMS dari Budi Temanggung, juga masuk dari Sulis Gresik: “Berkat Matahari itu pikiran saya menjadi plong karna saya lagi berat &#8230; <a href="http://mindsetmotivator.com/2009/06/02/tip-praktis70-laser-matahari-%e2%80%9cmembakar-kegelapan-trauma%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p class="sayac_bilgi"></p>
<p><strong>“Seluruh badan keringatan, himpitan batin kini mulai ringan. Rasa benci dan dendam mulai memudar. Hati dan pikiran jadi longgar”</strong></p>
<p>Demikian SMS dari Budi Temanggung, juga masuk dari Sulis Gresik: <strong>“Berkat Matahari itu pikiran saya menjadi plong karna saya lagi berat pikiran”</strong></p>
<p>Nio Surabaya: <em>“Setelah coba terapi matahari, hati &amp; perasaan saya lebih lega &amp; bahkan sampai sekarang kehangatan sinar matahari masih terasa di hati dan perasaan saya. Makasih banyak”</em></p>
<p>Demikian dari sekian puluh SMS yang masuk ke redaksi Radio Sonora 92.0 FM saat acara Terapi Musik, Minggu, 31 Mei 2009 jam 22:00-24:00 lalu.</p>
<p><span id="more-196"></span><strong>Menerima saat berbagi</strong></p>
<p>Saya sungguh sangat bersyukur saat berbagi pengalaman dan melakukan panduan aktif di acara Terapi Musik ini, sungguh sangat bersyukur… Banyak berkat yang saya dapatkan, saya justru banyak belajar, bahkan sering kali saya malahan Self Healing he he…</p>
<p>Saya malahan menyembuhkan diri sendiri, saat saya melakukan panduan aktif untuk acara Terapi Musik tersebut. Jadi, sebenarnya kalo dipikir-pikir, dengan memberi, asalkan tulus dan ikhlas, kita malahan terus menerima dan menerima. Kita yang malah untung ya he he…</p>
<p>Banyak hal yang membuat saya sendiri terkagum-kagum saat setelah sebuah panduan aktif diberikan secara langsung, yang diikuti ribuan pendengar dari berbagai kota besar di Indonesia. Sudah ribuan SMS yang bersaksi akan manfaat dari acara ini. Buat saya, ya tentu senang bahwa talenta yang dipercayakan oleh Tuhan kepada saya, dapat berguna, dapat berhikmah, tidaklah jadi sia-sia… Hal yang paling mengagumkan saya adalah…</p>
<p><strong>Luar biasanya cara kerja Alam Bawah Sadar manusia</strong></p>
<p>Saya sungguh sangat banyak belajar dan mendapat manfaat dari acara Terapi Musik ini, sayalah yang paling beruntung. Mengapa demikian? Saya sungguh terkagum-kagum dengan Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini, khususnya penciptaan Alam Bawah Sadar manusia yang sangat hebat dan sangat dahsyat ini.</p>
<p>SMS di atas muncul, sebagai jawaban akan adanya permintaan bagaimana terapi matahari ini bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh beberapa pendengar. Pertanyaan yang mengandung keyakinan kuat bahwa terapi matahari ini, bisa menjadi solusi yang dahsyat untuk keadaan mereka. Mana mungkin saya menolak? Apa yang saya lakukan? Sambil siaran, saya sejenak…</p>
<p><strong>Berdoa dan mohon ilham dari DIA yang AKBAR</strong></p>
<p>Dan, tiba-tiba muncullah ide yang tidak bisa saya tahan untuk tidak saya ucapkan saat panduan aktif berikutnya. Benar-benar tanpa skrip dan skrenario, semua mengalir begitu saja tanpa bisa saya kendalikan. Karena adanya permintaan menuliskan proses ini, saya siapkan waktu khusus menuliskannya saat ini. Permintaan yang sungguh-sungguh dari para pendengarlah, yang menguatkan dan memotivasi untuk terus berkarya. Ilham yang muncul demikian…</p>
<p><strong>Sinar Matahari menjadi Sinar Laser</strong></p>
<p>1. Setelah Anda melakukan tahapan proses Terapi Matahari sebagaimana yang saya tuliskan terdahulu, yakni: <strong>Tip Praktis NLP#69: Terapi Matahari “Sumber Energi Cinta Berlimpah untuk Kesehatan”</strong>, dapat Anda klik di: <strong>http://portalnlp.com/?p=365</strong><!-- START: content-article --></p>
<p>2. Sekarang, buatlah sinar matahari yang masuk kedalam tubuh Anda menjadi seperti sinar laser, buatlah sangat terfokus, mungkin sinar laser yang sangat kecil. yakini, Sinar Laser ini dari Sinar Matahari yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Yakini dan yakini…</p>
<p>3. Lalu, kendalikan sinar laser matahari ini ke bagian tubuh yang ingin disembuhkan, yang mau disegarkan, yang mau dibersihkan, yang ingin diterangkan, yang mau disehatkan, sesuai yang Anda inginkan terjadi. Biarkan saja sinar laser matahari ini bekerja sendiri, karena sinar laser matahari ini tahu apa yang Anda butuhkan. Sinar laser matahari penyembuh ini sangat memahami, apa yang terbaik untuk diri Anda…</p>
<p>Kunci keberhasilan dari kegiatan nomor 3 ini adalah lakukan dengan sangat lambat dan perlahan-lahan…</p>
<p>4. Ulangi kegiatan nomor 3 sesuai kebutuhan Anda. Kapanpun dirasa perlu, sesuai waktu Anda sendiri, juga sebanyak yang Anda inginkan. Atur saja…</p>
<p>Terus terang, jika Anda bertanya bagaimana terapi sinar laser matahari ini menyembuhkan, sungguh saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak bisa menjawabnya, saya hanya ingin berbagi pengalaman saja, karena tiba2-tiba sangat banyak pendengar yang mendapat manfaat dari terapi ini, saat disiarkan secara langsung di Radio Sonora. Sungguh, saya sendiri masih bingung he he…</p>
<p>Saya hanya bisa berdoa syukur, saat menerima SMS dari Untung Palembang:<em></em></p>
<p><em>Saya tadi mengikuti teknik instruksi visualisai yang dituntun. Begitu terasa sampai saat ini keringat masih keluar. Sterasa sekali manfaatnya. Saya sudah divonis jantung dan kelainan lain tapi sekarang sakit di dada saya berkurang. Trims banyak, saya anggap ini satu ilmu yang sangat bermanfaat tq”</em></p>
<p><strong>Manfaat lain: Membakar Kegelapan Trauma</strong></p>
<p>Karena ada pertanyaan yang “memaksa” saya untuk membantu beberapa pengirim SMS akan masalah Trauma mereka di masa lalu, maka muncullah ide pemanfaat sinar laser matahari untuk kebutuhan tersebut. Sungguh, saya hanya mengatakan kalimat ini saja:</p>
<p>1. Sekarang pejamkan mata</p>
<p>2. Amati dimana pikiran Anda menyimpan gambaran trauma di masa lalu tersebut. Di bagian depan wajah Anda, di sebelah kiri, di sebelah kanan atau di belakang diri Anda?</p>
<p>3. Jika sudah ketemu, sekarang bakar semua gambaran gelap trauma tadi, secara perlahan-lahan menggunakan sinar laser matahari tadi. Terus bakar sampai hangus gosong semuanya dan lenyap dari pandangan pikiran Anda.</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan para pendengar yang melakukan panduan aktif ini, saya hanya menerima SMS respon mereka, beberapa isinya demikian:</p>
<p>1. Wina Sby: “Terima kasih Mas, saya merasa lebih rilex tapi telapak kaki saya sampai sekarang masih terasa panas”</p>
<p>2. “Saya bernapas enak sekali, mas”, dari nomor HP 0878978…</p>
<p>3. Tarmuzi dari OK, Palembang menyempatkan SMS berikut ini:</p>
<p><em><strong>“Setelah saya mengikuti terapi matahari, tubuh saya berkeringat dan di hati saya yang susah/sedih menjadi tenang. Mata dan hati saya menjadi tenang”</strong></em></p>
<p>Masih banyak lagi yang lainnya, yang justru malah menguatkan dan memotivasi saya terus berkarya dan berkarya. Termasuk sumbangan sebuah lirik lagu dari seorang guru yang sangat setia menemani saya saat jatuh terpuruk, sampai saat ini. Lirik lagu tersebut demikian…</p>
<p><strong>Matahariku</strong></p>
<p>Ciptaan: Sanghamitta</p>
<p>Hidup ini begitu singkat</p>
<p>Mari cepatkan langkah</p>
<p>Janganlah lagi kau terjebak</p>
<p>Oleh semua duka derita</p>
<p>Duka derita tak akan berlalu</p>
<p>Jika tetap terpaku</p>
<p>Mari maju kuatkan kalbu</p>
<p>Singsing matahari yang baru</p>
<p>Pergilah pergilah…</p>
<p>Semua awan kelabu</p>
<p>Matahari dalam hatiku…</p>
<p>Tlah terangi jalan hidupku</p>
<p>Pergilah pergi…</p>
<p>Semua luka hatiku</p>
<p>Mari tata hidup kembali…</p>
<p>Dengan cahaya Tuhan sejati</p>
<p>Hidup ini buat berarti</p>
<p>Tuhan tempat di hati</p>
<p>Matahari Tuhan Sejati…</p>
<p>Tlah mengisi ruang dihati</p>
<p>Terima kasih atas doa semua saudaraku. Doamu menguatkan saya untuk terus berkarya untuk kehidupan ini, agar menjadi lebih baik dan lebih baik…</p>
<p>Jakarta, 2 Juni 2009</p>
<p><strong>Krishnamurti</strong> yang sangat beruntung…</p>
<p> Viewed 2638 times by 667 viewers </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mindsetmotivator.com/2009/06/02/tip-praktis70-laser-matahari-%e2%80%9cmembakar-kegelapan-trauma%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

